27 November 2015

Harapan para Tukang Sapu dan Kader Lingkungan Setelah Peroleh Adipura

Keberhasilan Banyuwangi mempertahankan piala Adipura 2015, disambut suka cita masyarakat Banyuwangi, terlebih para pelaku kebersihan yang peduli lingkungan. Mulai dari petugas pengangkut sampah, pesapon, kelompok dasa wisma (dawis) dan sejumlah tokoh lingkungan, mereka semua berharap Adipura ini bisa membuat masyarakat Banyuwangi lebih sadar akan kebersihan dan lingkungan.

Mereka ini mengaku sangat senang dan lega, karena kerja kerasnya dalam mempertahankan piala bidang kebersihan ini kembali diraih. “Senang sekali, Banyuwangi bisa dapat adipura kembali,” ujar Galuh Ariska, petugas pengangkut sampah.
Bagi kami, kata Galuh, adipura ini sebuah prestasi namun juga menjadi tantangan yang berat. Karena mempertahankan piala adipura lebih sulit dari pada usaha mendapatkannya. “Untuk tetap bisa mempertahankan Adipura ini, kerja kami memang lebih. Meski begitu kami senang melakukannya. Hanya saja kerja keras kami harusnya diimbangi  kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
Menurut Galuh, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan ini masih belum diikuti semua warga. Seperti, saat even masih ditemui sampah berserakan. Sebagian masih berfikir yang bertugas menjaga kebersihan hanya para petugas kebersihan. “Kebersihan adalah tanggung jawab semua. Mereka yang belum sadar, kalau lingkungan kotor, mengkritik. Tapi kalau diminta ikut menjaga, sulit,” keluh Galuh.
Senada dengan Galuh, pesapon Taman Blambangan Suprapto juga meluapkan rasa gembiranya atas raihan Piala Adipura kali ini. “Ini menunjukkan peran dan tugas kita kita diakui serta berhasil. Tidak rugilah kami siang malam bergiliran membersihkan setiap sudut kota Banyuwangi,” kata Suprapto. Jumlah tenaga kebersihan yang berada di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Banyuwangi sebanyak 620 orang, separuhnya yang 327 orang merupakan tukang sapu.
Sementara kader lingkungan Heni Sarawati (43), berharap bahwa dengan Adipura ini masyarakat lebih bisa kreatif menciptakan karya berbahan dasar barang bekas. Pemkab pun diminta lebih banyak memberi ruang bagi para ibu-ibu dawis memamerkan hasil karya daur ulangnya.
“Kami sudah biasa berkreasi membuat kerajinan dengan teknik 3R ( Reuse, Reduce, Recycle) dari barang-barang bekas. Seperti kalung dari kalender bekas, tas dari gelas air mineral dan topi dari kresek plastik bekas seperti yang saya pakai sekarang ini,” ujar Heni yang merupakan anggota Dawis Anggur Kelurahan Kalirejo, Banyuwangi ini.
Dawis Anggur ini merupakan salah satu kelompok masyarakat yang menjadi obyek penilaian dari tim penilai Adipura. Di sini, kata dia, tim menilai dawisnya telah menciptakan sejumlah hasil karya dari sampah.
“Ini benar-benar sesuai harapan kami yang telah berusaha keras membina kader lingkungan. Mudah-mudahan ini bisa ditiru masyarakat luas untuk menjaga lingkungan dan memanfaatkan sampah untuk didaur ulang sehingga menjadi barang yang bernilai jual,” kata Heni.
Selain mengungkapkan kepuasan hatinya, Heni juga sempat mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang sangat peduli lingkungan dan sampah. “Selama menjadi kader lingkungan sejak tahun 2008, kerja keras kami bisa dirasakan tiga tahun terakhir ini. Alhamdulilah, kami akan terus berkarya agar Banyuwangi bisa terus raih adipura,” pungkas Heni. (Humas Protokol)

Tidak ada komentar: