29 Oktober 2015

Petik Laut Muncar 2015, Cara Nelayan Muncar Bersyukur

Sebuah perahu kecil yang biasa disebut "gitik" sepanjang 5 meter diletakkan di depan panggung yang berada langsung di tepi laut Pelabuhan Muncar Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (29/10/2015).
Perahu kecil tersebut dihiasi bendera kecil warna-warni, sedangkan di dalamnya berisi 44 macam kue, buah-buahan, candu, pisang saba mentah, pisang raja, nasi tumpeng, nasi gurih, nasi lawuh, kinangan sirih dan berbagai macam hasil pertanian dan berkebunan. Terdapat juga kepala kambing "kendit" dan juga 2 ekor ayam jantan yang masih hidup.

Perahu kecil atau "gitik" merupakan perlengkapan penting dalam upacara adat petik laut di Pelabuhan Muncar, Kabupaten Banyuwangi yang menjadi pelabuhan penghasil ikan terbesar di Indonesia.
Muhammad Hasan Basri, Ketua Panitia Petik Laut Muncar menjelaskan tujuan dari Petik Laut Muncar adalah untuk mensyukuri atas rahmat Tuhan yang dilimpahkan dalam bentuk hasil penangkapan ikan.
Selain itu juga sebagai media permohonan agar memperoleh perlindungan dan dijauhkan dari segala bahaya dan mendapatkan hasil yang lebih melimpah. "Masyarakat sudah bermukim di wilayah Muncar sebelum tahun 1900-an. Awalnya dilakukan berdasarkan pranatamangsa, namun kemudian dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan Sura penanggalan Jawa," jelasnya.

Malam sebelumnya, masyarakat Muncar melakukan tasyakuran dan melakukan tirakatan sampai pagi. Lalu sekitar jam 6 pagi, perahu kecil atau "gitik" diarak keliling perkampungan nelayan dan berakhir di tempat upacara pelepasan sesaji diiringi dengan perangkat musik kesenian pengiring.

"Sebelum dilarung, di telinga kepala kambing diselipkan pancing emas. Dan hari ini penyelipan pancing emas dilakukan oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko," katanya.

Setelah proses penyelipan pancing emas, masyarakat nelayan Muncar memindahkan "gitik" ke dalam perahu besar yang akan berlayar ke tengah laut. Diikuti 1.000 kapal rombongan tersebut menuju ke titik larung yang letaknya sekitar 5 kilometer dari pelabuhan.

Setelah melarung "gitik" ke tengah lautan, rombongan melanjutkan pelayaran ke wilayah Sembulungan untuk berziarah ke makam Sayid Yusuf, orang pertama yang dipercaya membuka wilayah tersebut.

Setelah berziarah dan berdoa mereka akan kembali ke pelabuhan Muncar dan perahu nelayan yang akan mendarat biasanya disiram dengan air laut sebagi bentuk keberkahan dari Shang Hyang Iwak sebagai Dewi Laut. "Petik Laut Muncar ini mempunyai nilai budaya unik, penuh falsafah kehidupan dan kami berharap agar masyarakat terus melestarikannya," kata Yusuf Widyatmoko.

Wakil Bupati Banyuwangi mengatakan upacara adat Petik Laut Muncar sudah masuk dalam kalender wisata Kabupaten Banyuwangi sehingga bisa menarik perhatian para wisatawan baik domestik dan mancanegara.



Sumpah Pemuda, Pj Bupati Banyuwangi Tanam Pohon

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-87 di Banyuwangi ditandai dengan penanaman pohon oleh Penjabat (PJ) Bupati Banyuwangi Zarkasi di Taman Blambangan, Rabu (28/10). Pohon yang ditanam Zarkasi usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut adalah Sawo Blambangan, varietas buah Sawo asli Banyuwangi.  
Penanaman pohon ini sejurus dengan tema besar Peringatan Sumpah, yakni Revolusi Mental Untuk Kebangkitan Pemuda Menuju Aksi “Satu Untuk Bumi”. Zarkasi mengatakan bahwa pembangunan harus mengikuti konsep pembangunan berkelanjutan (Suistanability Development). Untuk itu, pembangunan suatu daerah harus memperhatikan pengelolaan SDA yang ada.
“Ini merupakan simbol peduli dan perhatian besar terhadap lingkungan. Apalagi kita semua tahu dan prihatin atas bencana kabut asap yang terjadi saat ini yang mengakibatkan pasokan oksigen semakin berkurang. Semoga program yang telah dirintis Pemkab selama ini bisa mengembalikan suplai oksigen,” kata Zarkasi.
Sejak 2013 Pemkab Banyuwangi telah menelurkan gerakan Sedekah Oksigen. Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk aktif menanam pohon di lingkungan sekitarnya. Sejumlah aturan pun diterapkan untuk menggiatkan gerakan ini.
Para pemuka agama wajib mendakwahkan ayat-ayat dalam kitab sucinya tentang pentingnya memelihara lingkungan kepada umatnya. Selain itu, untuk mensukseskan program tersebut Pemkab menginstruksikan PNS yang naik pangkat wajib menyetor 2 bibit pohon. Instruksi penanaman itu juga ditujukan pada siswa sekolah untuk menanam pohon di sekolah dan rumahnya
Begitu juga dengan para penerima bantuan sosial dan hibah wajib menanam pohon di lingkungannya. Bila tidak menanam, maka pemkab tidak akan mengucurkan bantuan lagi. Atas komitmen tersebut, Banyuwangi menjadi jawara Lomba Penanaman Satu Miliar Pohon yang saat itu diserahkan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam kesempatan itu, Zarkasi juga mengingatkan agar pemuda lebih bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi. “Teknologi harus dikuasai, tapi jangan tinggalkan budaya kita. Perkuat nasionalisme dan patriotisme dalam diri kita. Budaya lah yang membuat bangsa ini menjadi kuat,” pungkas Zarkasi. (Humas Protokol)

27 Oktober 2015

Durian Merah Varietas Balqis dan SOJ Resmi Milik Banyuwangi

Pengembangan komoditas hortikultura durian merah terus dilakukan Kabupaten Banyuwangi. Dua varietas durian merah, yaitu balqis dan SOJ, secara resmi telah diberi tanda daftar milik Banyuwangi oleh Kementerian Pertanian. Pengesahan dua varian durian merah itu tertuang dalam SK Menteri Pertanian Nomor 143/Kpts/SR.120/D.2.7/9/2015 untuk jenis durian SOJ dan SK Menteri Pertanian Nomor 142/Kpts/SR.120/D.2.7/9/2015 untuk varian balqis.


"Ini sebuah langkah baru. Dengan adanya SK itu kami akan akselerasi pengembangan durian merah. Tahun depan kami alokasikan dana pengembangan bibit secara lebih banyak lagi agar produksinya juga terus naik pada tahun-tahun mendatang," kata Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Banyuwangi, Ikrori Hudanto, saat dihubungi Antara.

Ikrori mengatakan, pihaknya telah memilih wilayah sentra pengembangan durian merah di Banyuwangi, yaitu di Kecamatan Kalipuro, Licin, Glagah, Giri, dan Songgon. Lima kecamatan itu dipilih sesuai asal pohon induk. "Dari pemetaan kami, daerah-daerah itu memiliki topografi yang sesuai untuk pengembangan komoditas durian merah," kata Ikrori.

Dia menjelaskan, pihaknya telah melakukan uji coba penggandaan varietas balqis dan SOJ melalui cara vegetatif. Dua varietas yang cukup unik itu dikembangkan di Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah.

SOJ yang merupakan akronim dari "Sunrise of Java" (julukan Kabupaten Banyuwangi) memiliki warna daging oranye terang. Ketebalan dagingnya mencapai 16,5 milimeter dengan perpaduan rasa manis dan pahit yang pas di lidah. Aroma durian ini tidak tajam.

"Varietas SOJ ini menjadi idola karena warna dagingnya yang sangat terang dan mencolok. Ini jadi keunggulan, nilai ekonomisnya tinggi. Nama SOJ yang merupakan singkatan Sunrise of Java dengan sendirinya juga mengangkat nama Banyuwangi," jelasnya.

Adapun varietas balqis mempunyai keunggulan berupa panen dalam satu periode. Warna dagingnya juga oranye.

Ikrori mengatakan, durian merah Banyuwangi kini menjadi buruan. Selain karena terkatrol oleh permintaan yang melonjak dari wisatawan yang berlibur ke Banyuwangi, durian merah kian terkenal karena mendapat promosi luas melalui media, baik media konvensional maupun media sosial. Banyak stasiun televisi yang datang dan meliput pengembangan durian merah, sehingga banyak orang penasaran dengan buah tersebut. Harganya pun semakin mahal, bahkan bisa mencapai Rp250.000 per buah.

Sejumlah peneliti dari luar negeri juga khusus datang ke Banyuwangi untuk mencari bibit tanamannya. Pemkab Banyuwangi juga telah menanam dan membagikan ribuan bibit durian merah untuk dibudidayakan masyarakat.

Banyuwangi Kembali Raih Investment Award Jatim 2015

Banyuwangi kembali peroleh prestasi di bidang investasi. Kabupaten berjuluk the Sunrise of Java ini raih ‘Investment Award’ 2015 kategori promosi investasi terbaik yang diserahkan Gubernur Jatim Soekarwo kepada Pejabat (Pj) Bupati Banyuwangi Zarkasi di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (26/10).

Penghargaan ini diberikan lantaran Banyuwangi dinilai paling baik dalam melakukan promosi investasi. Pemkab dianggap gencar melakukan promosi investasi dengan berbagai inovasi menarik. Mulai dari mengikuti sejumlah business forum, pameran, hingga kebijakan dan sejumlah insentif investasi yang ditelurkan.
Soekarwo mengatakan penganugerahan ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur agar berlomba-lomba meningkatkan iklim investasi yang berdaya saing. "Award ini kami berikan untuk mendorong agar iklim investasi di daerah-daerah semakin kondusif. Selain itu juga untuk meningkatkan pelayanan prima di bidang penanaman modal," kata orang nomor satu di  Jawa Timur ini.
Untuk itu, Soekarwo mengharapkan agar setiap pemerintah daerah lebih memperhatikan dan mengenali wilayahnya masing-masing, agar dapat melakukan inovasi yang tepat untuk mendongkrak invaestasi di daerahnya. Dalam investment award ini terdapat lima kategori lomba, yakni kelembagaan, promosi investasi, pelayanan penanaman modal, dan kinerja investasi.  
Pj Bupati Banyuwangi Zarkasi mengatakan akan terus gencar melakukan promosi untuk menarik investasi masuk ke Banyuwangi. "Ini sebagai spirit kami agar terus berpromosi tentang potensi Banyuwangi," kata Zarkasi.
Sementara itu, Kepala Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Abdul Kadir menambahkan Pemkab Banyuwangi telah membuat kebijakan memberikan kemudahan bagi para investor. Kebijakan tersebut dituangkan dalam sebuah Perda pemberian insentif dan atau pemberian kemudahan penanaman modal di Banyuwangi.
Kadir menambahkan, bentuk insentif yang diberikan kepada penanam modal yang memenuhi kriteria bisa berupa pengurangan, keringanan, atau pembebasan pajak daerah; pengurangan, keringanan, atau pembebasan retribusi daerah, pemberian dana stimulan, atau pemberian bantuan modal.
"Sedangkan pemberian kemudahan berupa penyediaan data dan informasi penanaman modal sektor potensial dan peluang kemitraan, penyediaan sarana dan prasarana, penyediaan lahan atau lokasi, pemberian bantuan teknis, dan percepatan pemberian perizinan," kata dia.
Banyuwangi juga telah memiliki kawasan industri di kecamatan Wongsorejo. Lahannya diperkirakan mencapai lebih dari 700 hektar di kawasan utara Banyuwangi.
Infrastruktur pun terus dibangun guna mendukung pengembangan industri, baik infrastruktur fisik maupun teknologi informasi. Fasilitas listrik juga tanpa kendala sedangkan untuk kebutuhan air akan disupport oleh Waduk Bajulmati dengan kapasitas mencapai 10 juta meter kubik air yang saat ini tengah dibangun.
Pemkab pun telah melakukan pemasangan fiber optik dan broadband yang akan dikembangkan tahun 2015. Aksesibilitas juga sangat terjangkau dengan adanya bandara, pelabuhan dan fasilitas double track yang akan dibangun oleh pemerintah pusat.
Investasi di Banyuwangi sendiri mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 2012 tercatat Rp 1,19 triliun dengan jumlah ijin usaha yang dikeluarkan 1.340 buah. Tahun 2013 meningkat tajam hingga Rp 3,38 triliun dengan 1.986 ijin usaha. Dan 2104 menjadi Rp 3,44 triliun. (Humas Protokol)

25 Oktober 2015

Tradisi Adat Kebo - Keboan 2015 Alas Malang Banyuwangi

Video =https://www.youtube.com/watch?v=B01ytZVa-pk

 Kerbau yang merupakan sosok manusia yang dicat hitam sekujur tubuhnya ini, tak rela padi tersebut diambil. Saling kejar pun terjadi. Masyarakat yang tertangkap langsung dilumuri cat hitam di sekujur tubuhnya.
Itulah ritual Kebo-keboan Alasmalang, yang digelar setiap bulan Suro, Minggu (25/10/2015). Ritual mengawali musim tanam yang sudah masuk dalam Banyuwangi Festival 2015 ini, diikuti oleh ratusan warga dan masyarakat sekitar.

Sebelumnya, puluhan kerbau jadi-jadian diarak warga keliling kampung. Sepanjang jalan, peserta bertingkah seperti kerbau pada umumnya. Situasi makin seru tatkala manusia kerbau menerobos barisan penonton. Bagi penonton yang berhasil ditangkap, tangan dan wajah mereka pun di olesi cairan hitam oleh peserta.

Sontak, tradisi inipun menjadi lebih meriah oleh sorak sorai penonton.Uniknya, meski wajah sampai belepotan penuh warna hitam, tak sedikitpun penonton marah. Mereka justru senang karena telah turut meramaikan acara ini.

"Di sini tidak boleh marah. Karena kita melestarikan budaya dan adat disini. Kalau kena kerbau ya hitam seperti ini," ujar Bella, sambil menunjukkan wajahnya yang belepotan cat hitam.
Turut serta di belakang rombongan kerbau jadi-jadian adalah barisan ibu-ibu berbusana petani membawa hasil bumi dan di ikuti kereta seorang putri dan para penari. Putri di sini sebagai perwujudan Dewi Sri atau dewi kemakmuran. Di barisan paling akhir, barong dan kelompok musik daerah Banyuwangi, juga ditampilkan.

"Kebo-keboan alas malang ini sebagai wujud syukur masyarakat agraris di Alas Malang. Jadi ini suatu bentuk ucapan terima kasih pada tuhan, atas hasil panen yang melimpah," kata Indra Gunawan, sesepuh warga setempat kepada detikcom.

Menurutnya, tradisi ini sudah digelar warga setempat sejak abad 18 Masehi silam setiap bulan syuro."Kalau tradisi ini tidak dilakukan, diyakini desa alas malang akan mendapat musibah," pungkasnya.

Pada pelaksanaan tradisi Kebo-keboan, warga membangun gapura di tiap batas desa dan dihias dengan berbagai macam hasil bumi. Seperti terong, jagung, kelapa dan berbagai macam kekayaan alam lainya.

Tradisi ini digelar warga Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi setiap tahun pada bulan syuro. tujuanya sebagai rasa terima kasih atas melimpahnya hasil bumi. Setiap tahun, tradisi ini selalu menarik perhatian puluhan ribu penonton, baik dari kalangan warga setempat maupun luar kota.


18 Oktober 2015

Festival Anak Yatim, Gugah Spirit Berbagi

Festival Anak Yatim (FAY) kali ke empat berlangsung meriah di Banyuwangi, Minggu (18/10). Acara yang dipusatkan di Pendopo kabupaten ini, diikuti sekitar seribu lebih anak yatim yang berasal dari 24 kecamatan yang ada di Banyuwangi.

Mereka di pendopo untuk dibebaskan bermain dan bersenang-senang sepuasnya dengan berbagai wanaha permaian yang disediakan. Mereka bebas memilih aneka jenis permainan sesuai seleranya. Disediakan berbagai permainan tradisional seperti engklek, ular tangga dan benteng-bentengan. Juga permainan moderen diantaranya, basket, istana balon, sepeda mesin dan permainan edukatif  mengenal pesawat dan kabinnya.
Selain bermain, dalam FAY ini juga digelar aneka perlombaan, seperti congklak, cublak-cublak suweng, benteng-bentengan dan lomba lari estafet. Mereka yang memenangkan lomba ini mendapatkan hadiah tabanas total Rp 30 juta.
Puas bermain dan bersenang-senang mereka diajak makan tumpeng bareng Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas sambil menikmati sajian musik gambus “Miami”.
Nadia Ulfa (12) dari SDN Kedungrejo, Glenmore mengaku senang mengikuti festival ini. Selain bisa punya kenalan teman baru mereka saling cerita seputar sekolahnya dan bermain permainan tradisional bersama. Dia juga senang bisa membaca buku gratis yang ada di arena festival. Nadia adalah dua bersaudara yang sudah tidak beribu sejak kelas IV. Ibunya meninggal karena sakit, dan saat ini dia diasuh ayahnya seorang.
Begitu halnya Nandang (11), siswa kelas V SDN Pesanggaran ini telah kehilangan ibunya sejak berusia 2 tahun. “Senang aja di ajak kesini banyak teman baru. Saya pengen  jadi polisi yang bisa amankan kota,” jawabnya saat dialog bersama Bupati.
Sementara Alvira (28) orang tua salah satu anak yatim, menyatakan senang dengan kegiatan ini, karena anaknya mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi ada beasiswa untuk anak yatim berprestasi. “Mulai TK anak saya selalu berprestasi, beasiswa  ini akan jadi pemacu kami. Masih ada harapan buat anak saya bisa kuliah,” kata Ibu satu anak ini.
Sejak 2012, Pemkab Banyuwangi juga memberikan beasiswa bagi anak yatim berprestasi. Beasiswa ini ditujukan untuk mahasiswa berprestasi dari kalangan keluarga kurang mampu, termasuk para anak yatim untuk bisa bersekolah hingga perguruan tinggi.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, FAY merupakan upaya pemerintah daerah untuk menggugah kepedulian, membangun dan menerbarkan kasih sayang. FAY juga bisa jadi ajang menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak-anak yatim untuk bisa meraih cita-citanya.
"Festival ini spirit yang hebat dan bisa menjadi inspirasi bagi semua orang untuk bersolidaritas kepada anak-anak yatim. Kita akan dorong dan beri ruang penuh agar anak-anak bisa belajar dan mengejar cita-citanya setinggi mungkin," ujar Bupati Anas.

Di akhir acara anak-anak yatim doa bersama juga diajak berwisata keliling pendopo Banyuwangi yang dikenal mempunyai konsep green building.  Di sana, mereka belajar sejarah Banyuwangi melalui lukisan dan seni arsitektur masyarakat Using (masyarakat asli Banyuwangi) lewat rumah khas lokal yang ada di pendopo. Secara berkala, para pelajar memang diperbolehkan mengelilingi pendopo yang merupakan tempat tinggal bupati.  (Humas Protokol)

Keboan Aliyan, Tradisi Agraris Banyuwangi Agar Panen Berlimpah

Sejumlah desa di Banyuwangi masih memegang kultur budaya agraris yang kuat. Salah satunya adalah Desa Aliyan, di Kecamatan Rogojampi.kebo (kerbau).

Video = https://www.youtube.com/watch?v=M_F2he5iZ2o

Di desa ini warga memiliki tradisi keboan, sebuah ritual adat permohonan kepada Tuhan agar sawah masyarakat subur dan panen berlangsung sukses. Di ritus ini yang dilakukan setiap bulan Suro-penanggalan Jawa sejumlah petani kerasukan roh gaib dan bertingkah layaknya
Kerbau disimbolkan sebagai mitra petani di sawah untuk menghalau malapetaka selama musim tanam hingga panen. ”Keboan sejak lama telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan masyarakat lokal Banyuwangi. Kerbau bukan ternak pada umumnya yang dikonsumsi dagingnya. Tapi kerbau adalah mitra petani untuk menggarap sawah dan berupaya mendapatkan kemakmuran,” tutur Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menghadiri Festival Kebo-keboan, di Balai Desa Aliyan, Minggu (18/10).
Ritual keboan ini diawali dengan kenduri desa yang digelar sehari sebelumnya. Warga bergotong royong mendirikan sejumlah gapura dari janur yang digantungi hasil bumi di sepanjang jalan desa sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan.
Esok paginya, warga pun menggelar selamatan di empat penjuru desa, yang dilanjutkan dengan ider bumi. Para petani yang didandani kerbau lalu berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin. Saat berkeliling desa inilah, para "kerbau" itu melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga menabur benih padi.
Para petani itu diyakini kerasukan roh gaib. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan pun di pundak mereka terpasang peralatan membajak. Persis kerbau!
“Warga yang menjadi kerbau di ritual adat ini tidak bisa mengelak karena dipilih langsung oleh roh gaib leluhur. Apabila terpilih maka tindak tanduk mereka akan persis seperti kerbau, keluarga pun harus terus mendampingi selama prosesi agar kebo-keboan ini tidak mengamuk,” kata Sigit Purnomo, Kepala Desa Aliyan.
Di Desa Aliyan sendiri terdapat dua dusun yang secara turun temurun mempertahankan tradisi Kebo-keboan. Yakni di Dusun Aliyan dan Dusun Sukodono. Meski proses ritualnya sama dan digelar pada hari yang sama, namun kedua dusun ini tidak bisa melakukan prosesi secara bersamaan. Sebab jika kebo-keboan di dua desa ini saling bertemu maka akan saling serang. “Dari jaman dulu sudah seperti itu. Makanya pelaksanaan ritual di bedakan waktunya dan jalur ider bumi yang dilewati oleh kebo-keboan juga berbeda ,” imbuh Sigit.
Menurut sejarahnya, Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal bakal Desa Aliyan, sekitar abad 18 mendapatkan wangsit untuk melakukan ritual tolak bala kebo-keboan agar mayarakat desa terhindar malapetaka serta hasil yang melimpah. Buyut Wongso Kenongo memiliki dua putra yakni Buyut Pekik dan Buyut Turi. Buyut Pekik menjadi leluhur masyarakat Desa Aliyan, sementara Buyut Turi menjadi leluhur Dusun Sukodono, Desa Aliyan. Warga beda keturunan ini hingga sekarang tidak bisa akur dalam segala hal.
Anas menambahkan akan berkomitmen terus berupaya menjada tradisi yang berkembang dalam masyarakat. “Tradisi semacam tak boleh lekang dengan perkembangan jaman. Selain sebagai warisan budaya leluhur kita, ini juga sebagai salah satu cara warga desa bisa guyub, warga bisa saling gotong royong,” kata Anas.
Tradisi Kebo-keboan sejak tahun 2014 ini telah masuk dalam agenda Banyuwangi Festival yang merupakan agenda pariwisata daerah yang berisi beragam acara wisata. “Dengan masuk Banyuwangi Festival, secara tidak langsung memaksa kami untuk bisa menampilkan suatu atraksi budaya lokal yang berkelas. Misal dengan perbaikan manajemen acara. Ini sebagai upaya  kami agar budaya lokal terus membumi, selain tentunya rakyat pun bisa bangga,” kata Anas.
Sekedar diketahui, tradisi kebo-keboan di Banyuwangi berkembang di dua desa. Selain keboan di Desa Aliyan Rogojampi, tradisi keo-keboan juga ditemui di Desa Alasmalang, Singojuruh. (Humas Protokol)

Gemerlapnya Kemanten Using dalam BEC 2015

Banyuwangi terus membuktikan diri sebagai daerah yang menjunjung tinggi budaya dan berdaya kreasi tinggi lewat pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival 2016.

Video :https://www.youtube.com/watch?v=ER0BXEfVePg 

 Menampilkan parade kostum megah dan modern bak Karnaval di Rio De Janeiro, Brazil, BEC berhasil menyuguhkan citarasa berbeda dengan nuansa lokal yang kental dan latar etnik yang kuat. Karnaval BEC yang kali ini mengangkat tema "The Usingnese Royal Wedding" juga masih menjadi magnet pariwisata daerah yang mampu menyedot perhatian publik.
Siang itu, Sabtu (17/10), Taman Blambangan yang menjadi venue BEC 2016 disulap menjadi pelaminan raksasa. Gebyok kayu berhiaskan aneka bunga serta alunan gamelan manten melengkapi panggung yang menjadi latar BEC “The Usingnese Royal Wedding”. Prosesi adat pernikahan “Perang Bangkat” yang mengawali “Kemanten Using” pun tergelar. Ratusan penari Gandrung pun bertindak menjadi dayang-dayang yang mempesona selama proses ini berlangsung.
Ritual perang bangkat merupakan prosesi padu-paduan’ atau sahut-menyahut antar perwakilan keluarga kedua mempelai. Meskipun berkesan seperti berkonflik sebenarnya ini adalah cara para keluarga  yang ingin agar anak mereka bisa dipersatukan. Padu-paduan pun berakhir dengan kata sepakat dari kedua keluarga untuk menyatukan mempelai dan diikuti penyerahan uba rampe kepada keluarga pengantin perempuan. Yakni berupa kembang mayang, bantal yang dibungkus dengan tikar dan seekor ayam betina yang tengah mengerami telurnya.
Usai Perang Bangkat, dari panggung pelaminan keluar parade Kemanten Using Banyuwangi dalam wujud aslinya yang terdiri atas tiga jenis pengantin yakni Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan. Sembur Kemuning merupakan upacara adat pengantin yang mewakili masyarakat pesisiran Banyuwangi. Pakaian pengantin ini didominasi warna kuning, orange dan ungu. Sementara Mupus Braen Blambangan yang didominasi warna merah, hitam dan emas merupakan upacara adat pengantin masyarakat kelas menengah. Sedangkan Sekar Kedaton Wetan merupakan upacara adat untuk pengantin kaum bangsawan dengan warna pakaian yang  didominasi hijau dan perak.

Usai peragaan para pengantin asli, muncullah Kemanten Using versi BEC dengan kreasi kostum yang megah. Di barisan pertama, BEC Kemanten Using dengan tema Sembur Kemuning tampil dalam balutan warna Kuning, Oranye dan Ungu. Pemakaian Kembang Kemuning dalam busana pengantin ini sebagai lambang nasehat agar kedua mempelai saat hidup bermasyarakat mampu menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya.
“Gelaran karnaval BEC di Banyuwangi memang sangat berbeda dengan daerah lain. Kostumnya yang etnik dan bertema lokal jadi tontonan yang unik dan istimewa. Apalagi juga ada prosesi adat sesuai tema yang diangkat, sangat menarik buat saya,” kata Rahmat Mulyawan, salah satu pengunjung yang berasal dari Sekolah Tingi Pariwisata, Bandung. Rahmat saat itu datang bersama beberapa temannya yang sengaja hadir untuk menyaksikan BEC.
Setelah Sembur Kemuning, karnaval berlanjut dengan parade Kemanten Using Sekar Kedaton Wetan. Kostum yang terdiri atas warna hijau dan perak ini melambangkan kebangsawanan dari sang pengantin. Kostum pengantin ini juga sangat unik karena memakai mahkota yang berbentuk undak songo Monumen Tugu Blambangan.
Di parade selanjutnya, muncullah karnaval BEC Kemanten Using bertema Mupus Braen Blambangan. Kostum pengantin yang didominasi warna merah, hitam dan emas ini mewakili pengantin masyarakat kelas menengah. Kemegahan kostum ini ditonjolkan pada hiasan mahkota buthi setinggil yang terbuat dari rangkaian permata dan logam.
Sebelumnya BEC juga dimeriahkan oleh penampilan puluhan warga negara asing yang berdandan ala penari Gandrung. Juga ada penampilan BEC cilik dan The Best BEC 2014 The Mystic Dance of Seblang.
"Saya senang diberi kesempatan berpakaian Gandrung. Meski kainnya diikat kuat di tubuh saya sampai agak kesulitan bernafas, nggak apa-apa, saya rela. Kapan lagi bisa gaya dengan pakaian tradisional Banyuwangi," ujar Vanika Spencer, salah satu bule pemeran Gandrung. Vanika merupakan relawan Peace Corps yang menjadi pengajar bahasa Inggris di MAN Banyuwangi. (Humas Protokol)

Meriahnya Banyuwangi International Run 2015

Meriahnya Banyuwangi International Run 2015 BANYUWANGI - Ajang berkonsep pariwisata berbasis olahraga (sport tourism) "Banyuwangi International Run 2015" yang baru pertama kali digelar oleh Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah dan penuh keunikan. Tidak hanya sekadar lomba lari, ajang ini juga sekaligus menjadi etalase budaya dan keindahan Banyuwangi.
Lomba yang diikuti 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara ini sengaja digelar di tengah kota untuk mengenalkan berbagai destinasi wisata di daerah berjuluk "The Sunrise of Java" ini. Rute yang dilalui pun melewati beberapa landmark di Banyuwangi, seperti Taman Sritanjung, Taman Blambangan, dan Pendopo Kabupaten yang berkonsep hijau. Tidak ketinggalan, lintasan pelari juga melewati salah satu destinasi wisata daerah unggulan, Pantai Boom, pantai yang tengah dibangun menjadi dermaga marina terintegrasi pertama di Indonesia.
"Saya sangat terkesan ketika berlari menyusuri pinggir pantai saat lomba tadi," kata Edinah Koech, jawara putri kategori 10 kilometer. Pelari putri asal Kenya ini mengaku senang mengikuti lomba lari di Banyuwangi. Menurut Edinah, penyelenggaraan event ini sangat terorganisir dengan baik. "Yang menarik adalah saat berlari melewati pantai, sangat asyik. Situasi dan orang di sini juga menyenangkan," ujar pelari yang telah memenangi sejumlah lomba half maraton di dunia ini.
Lomba lari ini juga semakin meriah dengan berbagai pertunjukkan seni dan budaya daerah di sepanjang lintasan yang dilalui oleh pelari. Ada 32 titik di sepanjang rute yg menampilkan berbagai kesenian mulai tari Gandrung, kesenian Hadrah, gamelan, dan Barong. Tidak ketinggalan ratusan anak juga unjuk kebolehan dengan menampilkan gerakan senam khas daerah untuk menghibur para peserta. Bahkan di sepanjang jalan dipenuhi oleh masyarakat yang ikut memberikan semangat pada para pelari. "Saya senang orang-orang disini sangat ramah. Ini menjadi pengalaman berlari yang berkesan bagi saya," kata David Mutai, jawara Banyuwangi Internasional Run kategori 10 KM.
Diah Kurniawati, peserta asal Jakarta, mengatakan, baru kali pertama ini dia mengikuti lomba lari penuh dengan atraksi seni-budaya. Bahkan, sampai 32 titik aksi seni-budaya hadir di sepanjang rute. "Seru banget. Ajaib rasanya lomba lari tapi ada gamelan, ada hadrah, ada tarinya," kata salah seorang eksekutif di perusahaan logistik multinasional yang telah mengikuti ajang lomba lari di berbagai kota di dalam dan luar negeri itu. Selain mengikuti lomba lari, Diah yang hadir bersama tujuh rekannya juga sekaligus berwisata ke Banyuwangi. "Setelah ikut lari, istirahat sejenak. Siang nonton Banyuwangi Ethno Carnival, lalu malam hari naik ke Kawah Ijen mau lihat api biru. Besoknya jalan ke Teluk Hijau dan Taman Nasional Alas Purwo," kata dia.
Selama lima tahun terakhir, Banyuwangi memang gencar dalam mempromosikan kepariwisataan untuk menjadi salah satu destinasi baru untuk wisatawan dalam maupun luar negeri. Tak tanggung-tanggung, dari wisata pantai, gunung berapi, hingga wisata hutan hujan tropis, ada di Banyuwangi. Ditambah dengan festival yang diadakan sepanjang tahun dengan menampilkan berbagai ciri khas lokal membuat Banyuwangi semakin dikenal di kalangan wisatawan.
Sektor pariwisata juga ikut berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan per kapita Kabupaten Banyuwangi yang naik tajam dari Rp 14,97 juta di tahun 2010 menjadi Rp 33 juta di tahun 2014 berdasarkan perhitungan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS). Sementara Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) juga naik dari Rp 23,56 triliun menjadi Rp 40,48 triliun. Selain itu, angka kunjungan wisatawan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012, wisatawan domestik sebesar 860 ribu orang naik menjadi 1.500 orang pada 2014. Wisatawan mancanegara pun meningkat tajam, dari 5 ribu pada 2012 menjadi 28 ribu wisman pada 2014. (Humas protokol)

14 Oktober 2015

BEC, International Run, dan Kebo-keboan Siap Ramaikan Akhir Pekan di Banyuwangi

Akhir pekan ini, berbagai ajang untuk mempromosikan pariwisata kembali dihelat di Banyuwangi, Jawa Timur. Sedikitnya tiga agenda besar, yaitu Banyuwangi International Run, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Kebo-keboan, hingga Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
Menteri Pariwisata Arief Yahya, sejumlah tokoh nasional, dan beberapa pelaku industri kreatif bakal ikut menyemarakkan beragam ajang di Banyuwangi itu.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, pariwisata event (event tourism) seperti BEC dan Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi pengungkit kunjungan wisatawan ke daerah di ujung timur Pulau Jawa itu. "Apa yang kami sajikan dalam Banyuwangi Festival dengan berbagai event seperti karnaval etnik, festival kopi, International Run, maupun tontonan tradisi budaya adalah untuk memperpanjang siklus destinasi agar wisatawan makin punya beragam pilihan di Banyuwangi," kata Anas.
Banyuwangi International Run yang akan digelar pada Sabtu 17 oktober pukul 06.00 ini digagas bareng antara Gerakan Berlari Untuk Berbagi (BUB) dan Pemkab Banyuwangi. Tahun ini akan melombakan dua kategori lari, yakni 5 KM dan 10 KM dengan memperebutkan total hadiah sebesar Rp 100 juta.
Banyuwangi International Run mengangkat tema Run & Enjoy The Culture. Tema yang menggambarkan ajakan untuk berlari dan menikmati kebudayaan sekaligus keindahan dari kota Banyuwangi. "Lomba lari ini akan diikuti 1.000 peserta. Sejumlah pelari nasional dan international dari Kenya akan berlomba dan melintasi jalan Banyuwangi serta menyusuri Pantai Boom yang menjadi kebanggaan warga Banyuwangi," kata Anas.
Masih di hari yang sama, Sabtu siang tepat pukul 12.00 akan digelar Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). BEC kali ini mengusung tema The Usingnese Royal Wedding. Using merupakan suku asli Banyuwangi.
Tradisi Pengantin Using yang akan diparadekan adalah Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.
Dalam BEC ini kemanten Using akan ditampilkan dalam bentuk desain fesyen yang berkarakter oleh para desainer muda Banyuwangi. Setiap desain kostum yang ditampilkan oleh anak-anak muda Banyuwangi ini merupakan hasil interpretasi mereka setelah mempelajari sejarah Using.
"Inilah yang saya sebut dengan konsolidasi budaya lewat suatu event. Setiap peserta parade, otomatis dituntut untuk membaca ulang histori tema yang akan dibawakan sebelum menerjemahkan ke kostumya. Dengan membaca kembali sejarah, mereka akan mengerti bagaimana tradisi dan budaya asli daerahnya, yang secara tak langsung akan menumbuhkan kebanggan pada budayanya," ujar Anas.
Setelah BEC, Minggu 18 Oktober akan digelar tradisi Kebo-keboan di Desa Aliyan, Rogojampi dan Festival Anak yatim. Kebo-keboan (kerbau) adalah sebuah ritual masyarakat lokal, di mana sejumlah orang didandani seperti kerbau dan seluruh tubuhnya dilumuri jelaga hitam. Ritual ini adalah bentuk tradisi permohonan kepada Tuhan agar sawah masyarakat subur dan panen berlangsung sukses.
Sementara festival anak yatim adalah cara pemkab Banyuwangi untuk menyenangkan anak yatim. Pada hari itu akan diserahkan sejumlah beasiswa khusus bagi anak yatim dan mereka yang kurang mampu. Di acara yang digelar di halaman pendopo kabupaten ini, akan disediakan pula mainan anak dan makanan gratis bagi para anak yatim dan piatu.
Ditambahkan Plt Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda, akan ada sebuah event menarik lain. Para wisatawan bisa mencicipi kopi citarasa Banyuwangi dalam sebuah Festival Ngopi Sepuluh Ewu dengan 10.000 cangkir. Sepuluh ewu dalam bahasa setempat berarti 10.000.
Festival minum kopi khas Using (masyarakat asli Banyuwangi) ini digelar 20 Oktober malam hari di desa adat Kemiren yang merupakan salah satu basis masyarakat Using. Seluruh latar rumah di Desa Kemiren akan disulap menjadi ruang tamu yang menyuguhkan kopi Using dan jajanan tradisonal Banyuwangi. Menariknya, warna dari ribuan cangkir yang disuguhkan adalah seragam. Cara penyajiannya juga seragam karena diyakini bisa menghasilkan rasa kopi terbaik.
"Semuanya gratis. Ini akan jadi malam yang romantis, karena di depan tiap rumah akan dipasang obor sebagai penerangan," imbuh Bramuda.
Saat ini, akses wisatawan ke Banyuwangi semakin mudah. Selain jalur darat dan laut, juga telah ada Garuda Indonesia dan Wings Air yang tiap hari menerbangi Banyuwangi dari Surabaya dan Denpasar. ”Cukup 45 menit dari Surabaya dan 20 menit dari Denpasar,” kata dia. (Humas & Protokol)

Usung Tema The Usingnese Royal Wedding, BEC 2015 Siap Digelar

Parade fashion warga Bumi Blambangan, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) akan digelar Sabtu 17 Oktober mendatang. Mengangkat tema The Usingnese Royal Wedding, karnaval megah ini akan menghadirkan ratusan talent yang memperagakan ragam pengantin ala Banyuwangi dalam balutan kostum yang kontemporer.

Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini merupakan daerah yang ditempati beragam etnis. Salah satunya adalah Suku Using yang merupakan suku asli di Banyuwangi.
"Kami terus konsisten mengeksplorasi budaya kami. Banyuwangi Ethno Carnival pun kami gelar dengan tematik tiap tahunnya adalah budaya lokal kami yang memang sangat kaya. Setelah tahun-tahun sebelumnya sempat mengangkat Gandrung, barong Using, tahun ini yang kami persembahkan adalah tradisi pengantin suku Using," kata Bupati Banyuwangi Abdullah azwar Anas.
Anas menambahkan, pemilihan tema yang akan diangkat dalam setiap event akbar budaya Banyuwangi merupakan hasil diskusi dengan sejumlah budayawan dan seniman Banyuwangi. Mengingat mereka dinilai memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih tentang tradisi serta budaa yang berkembang di Banyuwangi.
"Dalam penyusunan temanya kami selalu melibatkan budayawan serta seniman. Selain mereka memiliki pengetahuan lebih, pelibatan mereka ini untuk menjaga norma serta pakem-pakem tradisi setiap atraksi budaya yang akan kami tampilkan dengan cara yang lebih moderen," kata Anas.
Karnaval yang memadukan moderenitas dengan seni tradisional ini akan digelar di Taman Blambangan, dimulai tepat pukul 12.30 WIB. Tema Pengantin Using yang diangkat kali ini akan diperagakan 100 talent lebih ini dibagi menjadi tiga sub tema. Yakni, Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.
Sembur Kemuning merupakan upacara adat pengantin masyarakat pesisiran di Banyuwangi. Kostum yang dikenakan didominasi warna kuning, orange dan ungu. Sementara Mupus Braen Blambangan yang didominasi warna merah, hitam dan emas merupakan upacara adat pengantin masyarakat kelas menengah. Sekar Kedaton Wetan merupakan upacara adat untuk pengantin kaum bangsawan yang nantinya akan diperagakan penampil dengan kostum dominasi warna hijau dan perak.
“Dalam gelaran BEC ini, kemanten Using akan ditampilkan dalam bentuk desain fesyen yang berkarakter oleh para desainer muda Banyuwangi. Inilah yang membedakan BEC dengan ajang serupa dari daerah lain. Kalau di daerah lain, mereka membawa tema global ke level lokal, sedangkan Banyuwangi justru membawa tema lokal untuk diperkenalkan ke publik yang lebih luas,” papar Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Yanuar Bramuda.
Dalam gelarannya nanti, kata Bramuda, parade BEC akan dimulai dari Taman Blambangan dengan panggung seluas 10 x 16 meter dan dilengkapi cat walk sepanjang 70 meter. Pergelaran ini akan diawali tari Gandrung kolosal. Setelahnya, akan disambung prosesi ritual adat kemanten Using yakni perang bangkat. Sebuah ritus adat yang dilakukan dalam acara pernikahan (mantenan) apabila kedua mempelainya adalah anak terakhir atau anak ‘munjilan’.
Ritual perang bangkat ini diawali dengan padu-paduan’ atau sahut-menyahut antar perwakilan keluarga kedua mempelai yang saling meminta agar anak mereka bisa dipersatukan. Padu-paduan ini akan diakhiri dengan kata sepakat dari kedua keluarga untuk menyatukan mempelai dan diikuti penyerahan uba rampe kepada keluarga pengantin perempuan. Yakni berupa kembang mayang, bantal yang dibungkus dengan tikar dan seekor ayam betina yang tengah mengerami telurnya.
Usai prosesi ini, penonton akan menyaksikan lima penampil khusus BEC dari manca negara. Menyusul di belakangnya parade defile best BEC 2015 yang kemudian diikuti penampilan 37 peserta BEC cilik yang menampilkan kostum pengiring manten Using.
Selanjutnya, penampil utama The Usingnese Royal Wedding akan menghibur penonton dengan beragam kostum kreasinya yang moderen dan kontemporer. Diawali dari penampil BEC Sembur Kemuning, lalu barisan kemanten Mupus Braen Blambangan dengan warna kostumnya yang menyala. Di barisan terakhir, puluhan kemanten dengan kostum bertemakan Sekar Kedaton Wetan akan menjadi pamungkas.
BEC kali kelima ini akan dibuka langsung Menteri Pariwisata Arief Yahya, sejumlah tokoh nasional, dan beberapa pelaku industri kreatif direncanakan akan hadir di BEC 2015 ini. Selain itu, artis lokal yang sedang  naik daun Wandra dan Suliyanah juga akan menyemarakkan ajang ini.
Peserta BEC akan berjalan mengelilingi kota sejauh dua setengah kilometer. Start Taman Blambangan - Jalan Veteran – Susuit Tubun – Masjid Agung Baiturrahman – PB Soedirman – Jl. A Yani dan finish di depan kantor pemkab. (Humas & Protokol)

Adat Sapi-sapian Wujud Syukur Warga Using Kenjo

Masyarakat Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Rabu (14/10) menggelar tradisi Adat Sapi-sapian.
Dalam gelaran ini Bupati Abdullah Azwar Anas,turut hadir bersama ratusan warga di desa using tersebut. Adat Sapi-sapian adalah ritual ider bumi (mengelilingi desa) dengan berdandan ala sapi, sambil membawa kendi jajang (tempat air minum dari bambu). Sapi-sapian diarak ramai-ramai oleh warga yang berdandan layaknya petani yang akan memanen hasil sawah. Mereka membawa sejumlah peralatan pertanian, seperti,cangkul, sabit, bajak dan lainnya. Arak-arakan ini di awali dari batas desa hingga ke ujung desa yang jauhnya berjarak 4 km. Tradisi ini digelar setiap 1 Muharam, sebagai wujud ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang diterima warga Kenjo. Sebelumnya warga desa telah menggelar selamatan desa dengan tumpengan di setiap rumah, baru siang harinya arak-arakan sapi. Menurut Wakil Ketua adat Desa Kenjo,Busairi, selain syukur tradisi ini juga untuk mengingatkan kembali tentang asal usul Desa Kenjo, yang berasal dari Jajang kendi tersebut. "Jajang kendi itu bukan sekedar tempat air biasa,melainkan sebagai simbol asal mula Desa Kenjo yang berasal dari jajang /genjo.Dulunya warga kesulitan mencari air, sambil membawa jajang kendi akhirnya mendapat air. Karena bahagia warga teriak-teriak Genjo.Itulah awal ceritanya dan terus kita lestarikan hingga kini,"kata Busairi, Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan tradisi-tradisi seperti ini harus terus di dorong agar budaya denfan kearifan lokal hilang. "Ide-ide dari bawah seperti akan terus kita apresiasi agar partisipasi masyarakat tumbuh dan berkembang. Masyarakat disini sangat guyup, dan ini merupakan potensi yang luar biasa," kata Bupati Anas. (Humas protokol)

13 Oktober 2015

Anita Hijabox Usung "Imaginary Angel” di BBF 2015

Perhelatan Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang akan digelar Sabtu lalu (10/9) melibatkan sejumlah para pelaku fesyen asal Banyuwangi. Seperti Anita Yuni, desainer fesyen asal Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, menampilkan rancangan busana batik hasil desainnya yang dirangkum dalam Imaginary Angel (Sritanjung’s Soul)” 
Bagi Anita Yuni, keterlibatannya di BBF kali ini begitu spesial. Betapa tidak, setelah tahun lalu berhasil menampilkan sejumlah rancangannya dengan apik, Anita kembali dipilih untuk menyuguhkan desainnya di BBF 2015 ini.
Sebagai desainer muda yang tak pernah kehilangan ide kreatif, Anita sengaja memilih tema Imaginary Angle (Sritanjung’s Soul)” karena terinspirasi cerita lengenda Banyuwangi “Putri Sritanjung” yang cantik anggun. Di tema Imaginary Angle itu, Anita menyematkan busana bak putri dengan sayap di lengannya.
Bahan yang dipilih desainer askseoris Hijabox ini, sangat simple batik khas Banyuwangi yang tidak dicanthing tetapi memakai cukup menggunakan batik cap. Batik cap menurut dia lebih simple dan merakyat. Meski batik cap, Anita akan membuat hasil rancangannya terlihat mewah dan elegan dengan pewarna alam yang dicelupkan di kainnya.
“Pewarna alam tidak akan menimbulkan alergi di kulit seperti reaksi yang bisa ditimbulkan dari pewarna sintetis. Selain itu pewarna alam lebih ramah lingkungan dan menampilkan warna yang lebih lembut dan elegan,” urai Anita.
Batik khas Banyuwangi yang menjadi pilihan Anita, motif paras gempal dan salada. “Salada memang bukan motif batik Banyuwangi, namun motif ini kontemporer yang menurut aku sangat chic. Pas untuk rancanganku yang banyak menggunakan desain detail bunga,” kata Anita yang juga berprofesi sebagai dokter ini.
Dengan konsep yang diusungnya itu, Anita mengaku  totalilas dalam mempersiapkan rancangannya di BBF ini. Anita, membutuhkan waktu satu tahun sejak riset konsep, proses mendesain sampai penjahitan. “Enam bulan terakhir ini fokus pada penjahitan dan pemasangan detail aksesoris pakaian. Hampir semua penjahit dan pekerja saya minta kerja ekstra agar bisa selesai tepat waktu,” beber Anita.
Ada enam desain yang ditampilkan Anita pada BBF kali ketiga tersebut. (Humas protokol)

International Banyuwangi Run Diikuti Pelari Kenya

Dua pelari dari Kenya, Charles Kipkorir dan Collins Kipkorir Kimosop, dipastikan turut berlaga di International Banyuwangi Run, yang akan digelar Sabtu, 17 Oktober besok. Hingga H-5 peserta sudah mencapai 90 persen dari total target 1000 peserta.
 
“Pendaftar sudah mencapai 900 orang. Kuota bagi pendaftar hanya tersisa untuk kategori 10 KM, itu pun menyisakan kesempatan bagi 87 pendaftar saja. Dari daftar yang kami terima ada dua pelari dari Kenya akan turut bertanding,” kata Wawan.
Banyuwangi International Run akan melombakan dua kategori lari, yakni Open 5 KM dan Open 10 KM dengan memperebutkan total hadiah sebesar Rp 100 juta. Even sport tourism ini yang digelar pertama kali ini digagas bareng antara Gerakan Berlari Untuk Berbagi (BUB) dan Pemkab Banyuwangi.
Peserta lomba akan menempuh lintasan sejumlah ruas kota Banyuwangi. Mereka akan menyusuri dan melewati beberapa landmark kota seperti Pendopo, Taman Sritanjung, dan Pantai Boom. “Kita sengaja ingin mengajak para peserta untuk melihat dari dekat keindahan Kota Banyuwangi sekaligus juga promosi wisata. Peserta juga akan berlari di pinggir Pantai Boom,” ujar Wawan.
Para pelari ini akan memulai lomba mulai pagi hari. Kategori 10 KM lomba akan mengambil start pada pukul 06. 15. Hanya terpaut 5 menit dari kategori 5 KM yang dimulai pada 06.15. “Selain Open, lomba lari ini juga menggelar kategori pelajar. Sudah ada 500 pelajar yang siap berkompetisi menempuh lintasan dengan jarak 5 KM,” kata Wawan.
Ditambahkan Wawan, setiap peserta Open yang berhasil mencapai garis finish sesuai dengan ketentuan akan mendapatkan medali, sementara kategori pelajar memperoleh sertifikat. “Semua peserta tanpa kecuali yang ikut Banyuwangi run juga akan mendapatkan merchandise berupa kaos, goody bag dan catatan waktu berupa cip,” imbuh Wawan.
Tidak hanya bisa menikmati suasana kota Banyuwangi, nanti di sepanjang rute yang dilalui oleh pelari, mereka juga akan dihibur oleh kesenian khas Banyuwangi di 32 titik sepanjang lintasan. “Kesenian ini juga untuk menyemangati para pelari dan untuk meramaikan suasana,” cetus Wawan.
Berikut rute Banyuwangi International Run 10 KM. Start Taman Sritanjung - Jl. Jendral Sudirman – Jl. Jendral A. Yani – Jl. Adi Sucipto – Patung Kuda – Jl. Kepiting – Kol. Sugiono – Jl. Mayje MT. Haryono – Kampung Ujung – Pantai Boom – Jl. Banterang (PLN) – Mall Borobudur dan finisf di Pendopo.
Kategori 5 KM, start di Taman Sritanjung - Jl. Jend. Sudirman – Perliman – Jl. KH. Wachid Hasyim – Paldam – Jl. Mayjen MT. Haryono – Kampung Ujung – Pantai Boom – Jl. Banterang – Mall Borobudur dan finish di Pendopo. (humas protokol)

Trend Pariwisata Banyuwangi Meningkat, Bupati Ajak PNS Jeli Memanfaatkan Peluang

Trend pariwisata Banyuwangi menunjukkan progress yang bagus. Akan banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan. Ini disampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat memimpin apel pagi di halaman kantor Pemkab, Senin (12/10).

Bupati pun mengajak para PNS untuk bisa jeli memanfaatkan peluang itu. “Mulai sekarang, PNS Banyuwangi harus mulai menabung. Investasikanlah uang bapak ibu semua untuk membuat usaha yang bermanfaat, seperti rumah makan, pusat oleh-oleh, atau pun toko souvenir. Hanya PNS yang kreatiflah yang dapat membaca keadaan,” pesan bupati.
Bupati Anas yang akan segera mengakhiri masa jabatannya pada 20 Oktober mendatang juga meminta agar kinerja PNS terus ditingkatkan. “ Meski pun masa jabatan saya akan segera berakhir, ini jangan jadi alasan untuk mengendurkan ikat pinggang. Saya minta kinerja PNS terus ditingkatkan. Sebab berbagai kemajuan yang telah diraih Banyuwangi beberapa tahun terakhir tetap harus dipertahankan,” kata Bupati Anas.
Bupati menambahkan, APBD Banyuwangi  2016 yang berisi berbagai program pembangunan sudah disahkan Jumat (9/10) lalu, untuk itu ia meminta agar jajaran SKPD mulai menyusun dokumen rencana kerja anggaran (RKA) mulai November dan Desember ini. “Sehingga meskipun bupati definitif hasil pilbup baru akan dilantik pada Maret 2016, namun APBD 2016 sudah mulai bisa diserap pada bulan Januari,” pungkasnya. (Humas & Protokol)

Beragam Barong Se-Jawa Tampil di Banyuwangi dalam Festival Barongan Nusantara

Khazanah budaya Banyuwangi seolah tak ada habisnya. Setelah sukses menggelar Gandrung Sewu September lalu, kali kesenian Barong diangkat oleh Pemkab Banyuwangi. Menampilkan ratusan barong dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, Festival Barongan Nusantara digelar di sepanjang jalan protokol Banyuwangi, Minggu (11/10).  

VIDEO : https://www.youtube.com/watch?v=6AFuOWZPAFQ

Siang itu, ribuan masyarakat Banyuwangi berjubel di sepanjang jalan. Mereka ingin melihat keragaman khas Barong masing-masing daerah yang akan tampil. Diawali dengan munculnya representasi singa putih bernama Barong Rontek Singo Ulung dari Kabupaten Bondowoso.
Kemudian diikuti  barong dari Banyuwangi, yakni Barong Kumbo. Kemunculan Barong Kumbo yang berukuran besar diikuti oleh Kucingan yang beratraksi layaknya seekor kucing yang bermain-main dengan gerakan lincah dan menggoda. Di belakangnya ada Barong Bali yang penampilannya diiringi alat musik pukul  yang rancak dan diikuti sejumlah Leak.
Setelah Barong Bali,  giliran Barong Osing yang tampil. Barong asli Banyuwangi ini dinamakan Barong Prejeng. Barong Prejeng muncul bersama sekawanan burung dan pitik-pitikan. Di bagian akhir, Reog Ponorogo yang tampil bersama Ganongan, memungkasi pawai Barongan Nusantara lewat fragmen peperangan ‘Geger Bumi Lodaya’.
Barong sendiri dalam mitologi Banyuwangi digambarkan dalam bentuk makhluk raksasa berkepala besar dengan mata melotot dan taring keluar. Diyakini sebagai penolak bala oleh masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi, barong yang tumbuh dan berkembang sejak dulu kala ini  juga dimaknai sebagai simbol kebersamaan. Sehingga hampir di setiap ritual digelar, selalu melibatkan barong di dalamnya.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemkab akan terus berikhtiar memberikan tempat bagi seniman dan budayawan Banyuwangi untuk beraktualisasi. Diantaranya lewat gelaran Festival Barongan Nusantara ini. “Banyuwangi itu punya banyak barong. Lewat festival ini kami ingin memunculkan history tentang barong yang selalu mengingatkan kita akan jati diri bangsa. Apalagi kesenian yang telah lama muncul di masyarakat ini merupakan manifestasi kebaikan dan pelindung masyarakat, yang dulu juga menjadi sarana dakwah dan perjuangan. Semoga event ini menjadikan Barong Banyuwangi terus berkembang dan tetap lestari,” kata Bupati Anas.
Barongan Nusantara yang masuk agenda Banyuwangi Festival kali pertama ini diikuti oleh sekitar 500 penampil. Sebelum barong tampil, acara diawali dengan Ruwatan Barong Dandang Wiring. Dimana sebuah barong yang ditutupi kain putih ditandu oleh 4 orang. Barong tersebut kemudian dimandikan, disandingi peras (uba rampe yang biasanya digunakan untuk orang yang punya hajat besar), diasapi dan dibacakan mantra. Di belakangnya terdapat barisan 40 Gandrung beserta 20 lelaki pembawa umbul-umbul yang mengiringi Barong Dandang Wiring yang diruwat. Prosesi ini dipercaya sebagai ritual kuno yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi, agar barong tetap memiliki tuah dan semakin tajam dalam menghadapi segala gangguan.
Untuk diketahui,  pada bulan Agustus lalu, kesenian barong Banyuwangi mendapatkan kehormatan untuk tampil mengisi Frankfurt Book Fair 2015 diMuseumsurferfest, Frankfurt, Jerman. Barong Banyuwangi tampil selama 3 hari berturut-turut bersama dengan penampilan beberapa musisi kenamaan tanah air, seperti Djaduk Ferianto dan Kua Etnika, Dwiki Dharmawan, dan J-Flow. (Humas & Protokol)

Pusat Akan Anggarkan 1,7 Triliun untuk Bangun Pasar Rakyat

Pada APBN 2016, pemerintah pusat akan menganggarkan setengah dari anggaran di Kementrian Perdagangan (Kemendag) untuk membangun pasar rakyat. Itu disampaikan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong mengunjungi pasar induk Banyuwangi, Sabtu (10/10).

“Pembangunan pasar induk rakyat harus segera dimulai.  Kami menganggarkan separoh anggaran kami, sekitar Rp. 1,7 trilliun untuk pembangunan pasar tradisonal secara nasional. Di samping stabilisasi pangan, pembangunan pasar tradisional ini menjadi prioritas kami,” kata Thomas Lembong.
Hal itu, lanjut Thomas, sejalan dengan program nawacita Presiden Jokowi yang akan memprogramkan pembangunan 1000 pasar per tahun. Kenapa pasar tradisional dibangun? Karena, imbuh dia, pasar tradisional mencirikan kekhasan daerah, berbeda dengan pasar moderen yang serba seragam. Selain juga, kata dia, pasar rakyat bisa menjadi ruang bagi pengrajin daerah untuk memamerkan kreasi khas daerahnya.
“Seperti di pasar Banyuwangi tadi, saya sempat ngobrol dengan turis yang lagi plesir ke pasar tradisonal di sini. Ternyata pasar tradisional, bisa jadi fashion bagi wisatawan juga,” ujar Thom Lembong.  
Selain mengunjungi pasar induk Banyuwangi, sebelumnya Mendag berkunjung ke lokasi pasar tradisional Srono yang tengah dibangun menggunakan anggaran dari Kementrian Perdagangan. Thom Lembong juga meninjau pasar Sobo yang merupakan pasar pariwisata dan tradisional terpadu, pantai Boom yang merupakan lokasi pembangunan dermaga marina, dan penginapan murah (dormitory) di Banyuwangi.
Thom Lembong menambahkan, Kemendag akan mencari solusi kreatif untuk menjalankan program pembangunan pasar rakyat. Salah satunya  dengan membuat pasar percontohan di tiap daerah.  “Banyuwangi bisa jadi contoh. Dia bikin pasar pariwisata tradisional terpadu. Saya ke Banyuwangi juga dalam rangka belajar membuat ide-ide kreatif serta pengimplementasiannya,” puji Thom Lembong.
Selama empat tahun terakhir ini Banyuwangi telah memproteksi pasar rakyat agar tidak tergerus dengan pasar moderen. Caranya dengan merevitalisasi sejumlah pasar tradisional agar lebih bersih dan tertata. Selain juga mengeluarkan kebijakan pembatasan pasar moderen atau ritel di Banyuwangi. (Humas Protokol)

Pembangunan Pasar Pariwisata Tradisional Banyuwangi

Ide kreatif Banyuwangi menata pasar tradisional menjadi pasar rakyat yang tertata, bersih dan nyaman, mendapat apresiasi Menteri Perdagangan  (Mendag) RI, Thomas Trikasih Lembong. Apresiasi Thom Lembong sapaan Mendag ini disampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah pasar tradisional di Banyuwangi, Sabtu (10/10).

Dalam kunjungan tersebut Mendag mengunjungi salah satu pasar yang tengah direvitalisasi, yakni pasar Sobo. Pasar ini  tengah direvitalisasi menjadi pasar pariwisata dan terminal terpadu. Pasar ini nantinya merupakan pasar tradisional yang selain menjual kebutuhan pangan rakyat sehari—hari, juga akan menyediakan kerajinan lokal yang dilengkapi dengan terminal pariwisata sehingga membuka peluang untuk lebih banyak lagi konsumen yang datang. 
Pasar ini mulai dibangun sejak awal 2015. Didesain arsitek nasional Andra Matin, pasar ini akan dibangun menjadi pasar moderen dengan konsep go green. Berlantai empat, lantai dasar untuk area parkir, mushola dan toilet, dan perkantoran agen travel. Lantai I, untuk los-los pedagang yang disediakan untuk 90 pedagang. Sedangkan lantai II dan III, untuk dormitory.  
Pasar Sobo berada di atas lahan 7.000 meter persegi, dan berada di pintu gerbang masuk kota Banyuwangi. Dulunya pasar ini terkesan kotor dan tak teratur. Pedagang pun juga bervariasi disini, mulai pedagang klontongan, pasar burung, barang elektronik, hingga tempat bilyard ada di sana. Bupati Anas pun lalu merevitalisasi pasar ini pada awal tahun ini kembali ke fungsinya sebagai pasar rakyat tradisonal.
Saat mengunjungi Pasar Sobo ini, Tom Lembong tampak serius mengamati tiap detail bangunan pasar. Didampingi Bupati Abdullah Azwar Anas, Tom Lembong melihat sejumlah bangunan yang tengah dikerjakan kontraktor. Menurut Tom Lembong, revitalisasi pasar rakyat itu sebuah implementasi yang hebat dan patut dicontoh daerah lain.
“Saya melihat dua tahun ini Banyuwangi melakukan percepatan pembangunan. Salah satunya pengembangan pasar tradisional menjadi pasar yang lebih moderen seperti ini. Pasar tradisional bisa jadi moderen kalau ditata bersih, steril dan memudahkan pembeli. Kelebihan pasar tradisional ini ke depan, dia masih mencirikan kekhasan dan budaya suatu daerah. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri. Sudah waktunya kita kembali ke pasar tradisional dan ini harus kita pertahankan,” kata Tom Lembong.
Selain mengunjungi pasar Sobo, sebelumnya Mendag berkunjung ke lokasi pasar tradisonal Srono yang tengah dibangun menggunakan anggaran dari Kementrian Perdagangan. Thom Lembong juga meninjau pasar induk Banyuwangi, pantai Boom yang merupakan lokasi pembangunan dermaga marina, dan penginapan murah (dormitory) di Banyuwangi.
Sementara itu Bupati Anas menambahkan, revitalisasi pasar rakyat ini untuk memudahkan konsumen membeli barang yang diinginkan dengan mudah dan nyaman. Karena selama ini konotasi masyarakat tentang pasar trasisional adalah kumuh dan kotor, sehingga masyarakat enggan membeli barang di pasar.
"Dengan pasar terpadu ini harapan pemerintah bisa menjadi alternatif utama dalam berbelanja. Di pasar ini akan kita tur per-blok, mana yang menjual ikan dan daging, sembako, sayur. Kelebihannya pasar ini adalah pasar tradisional yang juga menjual oleh-oleh bagi wisatawan sehingga bisa menjadi pilihan utama masyarakat," ujar Bupati Anas. 
Selama empat tahun terakhir ini Banyuwangi telah memproteksi pasar rakyat agar tidak tergerus dengan pasar moderen. Caranya dengan merevitalisasi sejumlah pasar tradisional agar lebih bersih dan tertata. Selain juga mengeluarkan kebijakan pembatasan pasar moderen atau ritel di Banyuwangi. (Humas Protokol) 

08 Oktober 2015

Fashion On The Pedestrian Akan Awali Banyuwangi Batik Festival 2015

Sehari sebelum puncak helatan Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2015, akan diawali sebuah fashion on the pedestrian, Jumat (9/10). Peragaan di trotoar ini akan dilangsungkan sore hari di Taman Blambangan, sebuah taman hijau yang cantik di kota Sunrise of Java in.
Peragaan busana dengan menggunakan catwalk ruas pejalan kaki ini diikuti 170 peserta asal Banyuwangi yang membawakan busana batik dengan segala kreasinya. Ratusan model tersebut selain memang berprofesi sebagai model, melibatkan juga model dadakan. Mereka terdiri para pelajar, PNS dan karyawan perbankan di Banyuwangi.
"Meski aslinya tidak berprofesi sebagai model, namun para karyawan ini tetap ikut seleksi dari kita.  Mulai dari cara jaan bak peragawati, hingga desain baju yang diajukan ke kita. Totalnya yang ikut audisi sekitar 456 peserta, namun yang lolos hanya 170 saja," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan, Banyuwangi Hary Cahyo Purnomo.
Para model amatir itu, lanjut Hary, akan berlenggak lenggok sepanjang 350 meter di trotoar Taman Blambangan yang disulap menjadi catwalk. Kategori busana yang akan dibawakan anatara lain busana casual akan dibawakan peserta anak-anak. Busana pesta akan ditampilkan peserta remaja, dan karyawan akan memperagakan busana kerja.
”Untuk memacu kreativitas peserta, kita beri kebebasan kepada mereka untuk menyediakan sendiri busana yang akan mereka peragakan. Mereka bisa mendesainnya sendiri atau langsung menggandeng salah satu IKM batik,” ujar Hary.
Hary menambahkan, selain untuk menarik minat wisatawan, ajang fesyen batik di trotoar ini untuk lebih membumikan kekayaan batik di tengah masyarakat. "Banyuwangi sekarang punya sedikitnya 52 motif batik. Dengan ajang ini, batik bisa menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat," ujarnya.
Rangkaian acara BBF lainnya adalah lomba desain motif, lomba mencanting baik, dan lomba desain busana batik. Acara puncak digelar Sabtu malam (20/9) dengan peragaan busana yang diisi sejumlah bintang tamu, antara lain Puteri Indonesia Anindya Kusuma Putri, dan artis Krisdayanti.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, selain ingin melibatkan langsung masyarakat dalam promosi batik Banyuwangi dan menumbuhkan kecintaan pada fashion batik lokal, even ini dibuat untuk menunjukkan kalau trotoar  bisa menjadi tempat pertunjukkan yang istimewa selama didesain dengan aman, ramah dan nyaman bagi penggunanya.  “Kami ingin fungsi trotoar dikembalikan bagi kepentingan publik, ” kata Bupati Anas.
Selain itu ajang ini sebagai upaya mendorong batik sebagai komoditas fesyen yang bisa menggerakkan ekonomi lokal agar terus digalakkan. "Pengembangan pariwisata memang sejalan dengan industri kreatif seperti batik. Dengan makin familiarnya batik banyuwangi, perajin dan UMKM batik bisa tumbuh. Ini kerja-kerja jangka panjang," kata Anas. (Humas Protokol)

05 Oktober 2015

Tunjukkan Perhatiannya pada UMKM, Bupati Blusukan ke Genteng

Pemkab Banyuwangi terus berupaya memperhatikan keberadaan  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Banyuwangi. Sebab dari UMKM-lah tercipta lapangan kerja baru yang ke depan akan menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Untuk menunjukkan perhatiannya kepada UMKM,  Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Senin sore (5/10) mengunjungi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Selain melihat langsung  pembuatan konveksi dan bordir di Dusun Canga'an, Desa Genteng Wetan, Bupati Anas juga berkunjung ke industri pembuatan songkok di Dusun Tebuan, Desa Kembiritan.                               
Saat melihat proses pembuatan bordir di tempat usaha milik Nur Kholis Khumaidi, Bupati Anas sempat terkesima. Meski  tempatnya berada di pinggiran kota, ternyata teknologi yang digunakan sudah sedemikian modern. Nur Kholis menggunakan mesin bordir digital yang sekali bordir bisa langsung
membuat 18 bordiran. Untuk membordir dengan motif tertentu, Nur Kholis tinggal menggambar desainnya lewat komputer. Kemudian desain tersebut dipindahkan ke flashdisk dan dikoneksikan dengan alat tersebut.Begitu terbaca oleh alat tersebut, mesin siap membordir sesuai desain yang diinginkan.                                             
"Hebat ya. Padahal lokasinya jauh dari kota, tapi bapak nggak kalah canggih," kata bupati memuji.                           
Di depan bupati, Nur Kholis menceritakan, usaha yang dirintisnya ini tidak serta merta maju seperti sekarang. "Saya memulai konveksi sejak tahun 1985, sedangkan bordir baru dimulai pada 2012," kata Nur Kholis. Namun diakuinya, dibanding  konveksi, usaha  bordirnya jauh  lebih maju."Konveksi baru ramai
kalau tahun ajaran baru, dimana banyak pemesanan seragam sekolah. Atau menjelang puasa, banyak pesanan baju takwa yang hiasan bordirnya sekaligus kami kerjakan sendiri," tuturnya.       
Nur Kholis yang punya 18 karyawan tersebut mampu memproduksi 2000 potong per bulan, dengan omzet Rp 10 juta per bulannya. Naiknya dolar yang juga otomatis membuat harga bahan baku naik, membuat Nur
Kholis harus menyiasati produksinya. "Tadinya kami ambil bahan bakunya di Surabaya, tapi naiknya dolar membuat kami mencari bahan bakunya di lokal Banyuwangi saja. Tapi kami jamin kualitas tetap sama," tandas pengusaha yang pasokannya memenuhi pasar lokal dan Bali itu.
Kunjungan bupati kemudian berlanjut ke home industry songkok milik Muhammad Ali Gufron. Ali
Gufron sebelumnya pernah mencoba bikin usaha baju dan gorden. Dirasa kurang sukses, di tahun 2006, Ali mencoba beralih ke usaha pembuatan songkok. Saat ini Ali mampu mengirim hingga Surabaya, Jakarta, Tangerang dan Kalimantan.
Per minggunya, Ali yang memiliki 70 pegawai mampu menghasilkan 6000 pieces songkok. Praktis dalam sebulan ada 24.000 pieces yang dihasilkannya dengan omzet Rp 60 juta per bulan. Pesanan ramai saat menjelang lebaran dan musim haji. Di bulan lain saat sepi, Ali menggunakannya untuk menyetok barang.
Sama seperti Nur Kholis, naiknya dolar membuat Ali harus memutar otak, bagaimana usahanya tetap berjalan, namun juga tetap dapat menghidupi karyawannya. "Saya terpaksa menurunkan jumlah produksi songkok ini. Tadinya sebelum dolar naik, kami mampu memproduksi 10.000 pieces per minggunya. Setelah dolar naik, produksi kami turunkan menjadi 6000 pieces. Selain itu bahan bakunya yang tadinya kami ambil di Surabaya, sekarang kami ambil dari Genteng," ujarnya.
Melihat kerja keras dua  UMKM yang mampu survive saat krisis ekonomi melanda, Bupati Anas menyampaikan rasa salutnya. "Ini bagus. Mereka mampu bertahan di tengah melemahnya rupiah atas dolar. Meski harus disiasati dengan menurunkan jumlah produksi demi menjaga agar tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Saya berharap UMKM semacam ini bisa terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya," harap bupati. (Humas Protokol)

Pabrik Gula Glenmore Banyuwangi Senilai Rp1,5 Triliun Beroperasi 2016

Pabrik Gula (PG) Glenmore, Banyuwangi, ditargetkan bisa beroperasi (giling perdana) pada Agustus 2016. Saat ini, pembangunan konstruksi pabrik gula tersebut sudah mencapai 35 persen.


“Kami optimistis pertengahan tahun depan, Agustus 2016 sudah bisa giling perdana. Kami berharap pembangunan pabrik ini bisa mendukung pencapaian swasembada gula sekaligus menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat Banyuwangi,” ujar Direktur Utama PT Industri Gula Glenmore (IGG) Ade Prasetyo. IGG adalah perusahaan yang didirikan bersama oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII dan PTPN XI, keduanya merupakan badan usaha milik negara (BUMN).

Ade mengatakan, semula PG tersebut diharapkan bisa beroperasi pada tahun ini. Namun, terdapat persoalan pembiayaan sehingga dilakukan penjadwalan ulang. Saat ini, IGG telah mendapatkan kredit dari sindikasi perbankan yang terdiri atas Bank BRI, Bank BNI, Indonesia Eximbank, Bank Jatim, dan sejumlah bank lain.

“Sebagai konsultan teknis kita melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), juga Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP( Yogyakarta sebagai konsultan bidang SDM," tambahnya.

Nilai investasi PG Glenmore itu sebesar Rp 1,5 triliun. PG Glenmore dirancang berkapasitas giling 6.000 ton tebu perhari (TTH) dan dapat dikembangkan menjadi 9.000 TTH. Areal yang dicadangkan untuk penanaman tebu guna memenuhi kebutuhan bahan baku PG Glenmore seluas 11.250 hektare. 

Ade menjelaskan, PG Glenmore merupakan PG terpadu yang akan memproduksi gula putih premium. PG ini dirancang sebagai pabrik modern di mana limbah yang dihasilkan akan dikelola menjadi produk sampingan yang bermanfaat. "Dari pengolahan limbahnya akan menghasilkan produk sampingan berupa daya listrik 6 mega watt (MW), bioetanol, pupuk organik, dan pakan ternak," kata Ade.

Listrik dihasilkan dari pengolahan limbah padat tebu dengan teknologi co-generation. Adapun bioetanol dihasilkan dari pengolahan limbah cair tebu dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan pencampur bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan.

Ade menambahkan, pihaknya mengapresiasi dukungan kuat dari Pemkab Banyuwangi dalam pendirian pabrik ini. "Perizinannya hanya butuh dua hari sudah beres. Pemda sangat support kami," kata Ade.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, Pemkab Banyuwangi ingin agar lahan-lahan yang tidak produktif di daerah tersebut bisa ditanami tebu. Sehingga bisa melibatkan petani lokal untuk menggarapnya.

“Kami mendukung penuh pembangunannya. Dengan segera berdirinya pabrik ini, ribuan lapangan pekerjaan tercipta. Apalagi pabrik gula ini dibangun putra-putri Indonesia,” pungkasnya.

Kemarin, Minggu (4/10), Ade bersama Bupati Anas meninjau pembangunan PG Glenmore. Pabrik ini bakal menjadi kebanggaan Banyuwangi sebagai pabrik gula modern pertama di Indonesia. (humas protokol)

21 Geolog Manca Negara Teliti Bebatuan Pulau Merah

Pulau Merah Banyuwangi beserta potensi yang ada di dalamnya mengundang ketertarikan peneliti pertambangan untuk datang ke sana. Sebanyak 21 peneliti dari dalam dan luar negeri melakukan field trip (studi lapangan) ke wilayah pertambangan Tumpang Pitu, minggu lalu.

Field Trip ini hasil kerjasama 3 lembaga, yakni Society of Economic Geologists (SEG), CODES University of Tasmania, Australia, dan Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI). Para peneliti yang dipimpin geolog ekonomi nasional terbaik Indonesia Ade Maryono antara lain berasal dari Australia, Jepang, Brazil, Mexico, Inggris, China dan Laos.
Dikatakan ketua rombongan para geolog tersebut, Prof David Cooke, para peneliti itu tinggal selama dua hari di Pulau Merah. Mereka melihat dari dekat kondisi bebatuan Pulau Merah, sekaligus observasi terkait aktivitas pertambangan yang ada.
Menurut Cooke, Banyuwangi dipilih bukan tanpa alasan. Para geolog dunia meyakini Pulau Merah memiliki kandungan emas terbaik di dunia. Dari kacamata geolog, potensi Pulau Merah ini memang luar biasa. Selain cadangan kandungan emasnya, pola-pola endapan batuannya juga menarik.
"Pulau Merah itu istimewa. Selain kandungan emasnya dinilai terbaik di dunia, bebatuan yang ada di sana bagaikan laboratorium alam yang luar biasa yang langsung bisa kita saksikan," ujar guru besar CODES University of Tasmania itu.
Para peneliti yang sebagian besar belum pernah ke Pulau Merah ini, imbuh Cooke, saat dibawa ke sana spontan melontarkan pujiannya begitu tiba di Pulau Merah. "Semuanya acung jempol buat Pulau Merah. Sebab tidak semua tempat punya lokasi "seindah" dan selengkap Pulau Merah. Mereka jadi bertambah pengetahuannya dengan menginjakkan kaki di Pulau Merah. Di sana kami mengamati bebatuannya, meneliti karakteristik batuan, dan mengunjungi  lokasi penambangan emas," terang Cooke.
Indonesia, tambah Cooke, menjadi  lokasi yang dituju untuk kegiatan field trip ini pasca diputuskan dalam konferensi pertambangan (SEG - CODES Conference) yang digelar di Hobart, Australia, awal September 2015 lalu.  Di Indonesia, para peneliti ini menghabiskan waktu selama 8 hari mengunjungi sejumlah lokasi pertambangan, yaitu di Pulau Merah Banyuwangi, Batu Hijau -  Lombok dan beberapa lokasi pertambangan di Sulawesi.
Ditambahkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ketertarikan para geolog juga karena terkait pengelolaan di Pulau Merah. Di Pulau Merah ini mereka menemukan bahwa pertambangan bisa bersanding dengan baik dengan pengembangan pariwisata. "Mereka sempat menanyakan ke saya bagaimana mungkin suatu kawasan pertambangan bisa bertetangga baik dengan suatu kawasan wisata. Ini sangat menarik bagi mereka," kata Anas saat menerima kunjungan mereka di Sanggar Genjah Arum Kemiren, Sabtu (3/10).
Selain ke Pulau Merah, para geolog ini rencananya akan berkunjung ke Gunung Ijen untuk meneliti bebatuan dan kandungan mineralnya. "Kami memang berencana naik ke Ijen, meski terpaksa dibatalkan karena kondisinya yang tidak memungkinkan," pungkas Cooke. (Humas & Protokol)

Jadikan Momentum HUT TNI ke – 70 Untuk Terus Kerja Keras

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, memimpin upacara Peringatan HUT TNI ke-70 di Taman Blambangan, Senin (5/10). Di hari jadi TNI ini Bupati didaulat menjadi inspektrur upacara. Sementara seluruh pelaksana upacara dilakukan seluruh korp TNI AL.

Peringatan HUT TNI ini menurut Bupati Anas, bisa dijadikan sebagai momentum untuk terus bersama-sama bekerja keras dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera. “Mari kita teruskan sinegitas yang telah terjalin selama ini. Keberhasilan Banyuwangi tidak akan terwujud tanpa kerja sama yang baik antara pemerintah dan aparat,’ ujar Bupati Anas.  
Dimemontum ini, lanjut Bupati, kami minta  seluruh eleman untuk bersama-sama memerangi peredaran narkoba yang kian marak.  “Kami juga berharap dukungan dari TNI untuk ikut bahu-membahu mengurangi angka kemiskinan yang tinggal 9 persen lagi. Begitu juga dengan buta huruf yang tinggal 3 persen harus kita tuntaskan. Begitu juga dengan pelayanan kesehatan harus lebih kita tingkatkan,” ujar Bupati Anas.
Sementara itu,  Komandan Lanan (Danlanal) Banyuwangi, Letkol Laut (P)Wahyu Endriawan menambahkan TNI siap siap mendukung program belum tuntas. Selain itu, juga siap mensuksekan pemilihan kepala daerah (Pilkada) besok. “Kami para TNI siap all out memberikan dukungan pengamanan pilkada agar Banyuwangi agar tetap kondusif dan aman,” ujar Danlanal.
Upacara peringatan HUT TNI ini dilaksnakan tepat pukul 08.00 WIB dengan penuh khidmat. Diikuti personel TNI AL/AD, Polri, Satpol PP, Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (BP3P), dan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir.
Dalam kesempatan ini Bupati Anas juga membacakan sambutan Presiden RI Jokowi pada HUT TNI  yang mengambil tema "Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat, Profesional Siap Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Ber-kepribadian”.
“TNI harus menegaskan jati diri sebagai tentara rakyat karena TNI lahir dari ‘rahim’ rakyat. TNI tidak boleh menyakiti rakyat, tidak boleh berjarak dengan rakyat dan tidak boleh menyakiti rakyat. Tapi harus selalu bersama-sama rakyat. Karena hanya bersama dengan rakyat, TNI akan menjadi kekuatan militer yang hebat dan disegani oleh bangsa lain,“ menirukan teks sambutan Presiden Jokowi. (Humas & Protokol)

Banyuwangi Festival Suguhkan Even Budaya Seblang Bakungan

Pemkab Banyuwangi kembali menggelar even budaya Upacara Adat Seblang Bakungan. Tradisi asli warga suku Using ini disuguhkan dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2015 yang berlangsung di balai desa Kelurahan Bakungan, Minggu (4/10).
Tradisi Seblang Bakungan merupakan sebuah rangkaian tarian yang dibawakan oleh wanita tua ydalam kondisi trans atau tidak sadar diri. Ritual ini merupakan upacara penyucian desa yang dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha. Seblang adalah singkatan dari ‘Sebele ilang’ atau sialnya hilang. Di Banyuwangi, Seblang dapat ditemui di dua desa, yaitu Desa Olehsari dan Desa Bakungan.
"Banyuwangi akan terus kita bangun agar maju dan berkembang namun tradisi dan budaya juga tetap kita junjung sebagai bagian dari spirit dalam membangun daerah," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang memberikan sambutan via teleconference karena sedang bertugas di luar daerah.
Konsistensi Pemkab Banyuwangi dalam mengangkat tradisi lokal ke dalam Banyuwangi Festival juga sebagai upaya untuk melestarikan seni dan budaya daerah. "Kita ingin seni dan budaya Banyuwangi terus eksis dan mendapatkan panggung untuk bisa ditampilkan ke khalayak luas," imbuh Anas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata MY Bramuda mengatakan tujuan tradisi Senlang Bakungan adalah untuk bersyukur kepada Allah dan memohon agar seluruh warga desa diberi ketenangan, kedamaian, keamanan dan kemudahan dalam mendapatkan rezeki yang halal serta dijauhkan dari segala mara bahaya.
Tahun ini Seblang dibawakan oleh Supinah. Supinah merupakan Seblang Bakungan ke 11 sejak dimulai pertama kali pada tahun 1639. " Seblang ini dibawakan secara turun temurun oleh keturunan Seblang, satu orang Seblang bisa menjadi Seblang selama bertahun tahun baru dilanjutkan ke generasi berikutnya," kata Bramuda.
Sebelum upacara dimulai, terlebih dahulu warga Bakungan berziarah ke makam leluhur desa, Buyut Witri. Usai ziarah, mereka menyiapkan prosesi seblang dengan cara menyuguhkan bermacam syarat. Ada ketan sabrang, ketan wingko, tumpeng, kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir, boneka, pecut dan kelapa yang menjadi perlambang kejujuran.
Ritual seblang dimulai seusai maghrib. Ritual ini diawali dengan sholat magrib dan sholat hajat di Masjid desa. Lalu dilanjutkan parade oncor (obor) yang dibawa berkeliling desa (ider bumi). Uniknya, pada saat ider bumi dilakukan, listrik di desa tersebut dalam keadaan padam total. Penerangan  hanya berasal dari obor yang dinyalakan di depan rumah masing-masing warga dan obor yang dibawa berkeliling desa. Setelah itu warga menggelar selamatan  sambil melafadzkan doa. Ketika ada bunyi kentongan yang dipukul bersamaan, serentak warga makan bersama. Hidangan yang menjadi menu pun khas Using yakni nasi tumpeng dan pecel pithik. ""Selamatan itu sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rahmat yang diberikan Allah kepada warga Desa Bakungan," cetus Bramuda.
Usai makan bersama, penari masuk pentas yang ditempatkan di depan balai desa. Setelah dibacakan mantra dan doa, wanita tua itu langsung tidak sadarkan diri dan menari dalam keadaan kesurupan, selama gending dinyanyikan. Gending-gending yang dikumandangkan untuk mengiringi penari seblang itu ada 13 gending, diantaranya Seblang Lukinto, Podo Nonton, Ugo-ugo dan Kembang Gading.
Memasuki tengah malam, acara dilanjutkan dengan adol kembang (jual bunga). Di saat yang sama, para penonton berebut berbagai bibit tanaman yang dipajang di panggung dan mengambil kiling (baling-baling) serta hasil bumi yang dipasang di sanggar. Masyarakat Bakungan percaya barang-barang itu dapat digunakan sebagai media penolak bala. (Humas Protokol)

Angkat Potensi Perkebunan, Banyuwangi Gelar Plantation Festival

Banyuwangi memiliki segudang potensi yang tak pernah habis untuk digali. Tidak hanya potensi  wisata, seni dan budaya yang kencang dipromosikan, namun luasnya lahan perkebunan yang terhampar di kabupaten The Sunrise Of Java ini  juga tak luput untuk diangkat eksistensinya. Berbagai potensi yang dimiliki oleh perkebunan itu akan disuguhkan dalam Banyuwangi Plantation Festival (BPF) yang akan digelar Minggu pagi (4/10) besok di Perkebunan Kalirejo, Glenmore.

Kabupaten Banyuwangi memiliki areal perkebunan yang luasnya mencapai 82.143,63 hektar yang tersebar di beberapa wilayah. Komoditas kebunnya beragam mulai kopi, kelapa kopra, kelapa deres, tembakau, kakao, tebu, cengkeh, karet, vanili, abaca, kapas, dan kapuk randu. Sejumlah komoditas seperti kelapa kopra, vanili dan kopi bahkan telah diekspor ke beberapa negara.
“Potensi perkebunan di Banyuwangi sangat besar dan sangat menarik untuk dikembangkan. Kita ingin potensi itu bisa terangkat dan dikemas. Bukan sekedar untuk dipasarkan, namun juga sebagai peluang untuk menarik wisatawan," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Ditambahkan Anas, festival ini digelar sejalan dengan konsep pariwisata Banyuwangi yang ecotourism, pengembangan pariwisata yang mengandalkan potensi alamnya. Untuk itu, sejumlah potensi alam dikemas sedemikian rupa untuk menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
"Banyak sekali opportunity yang ada di perkebunan, tinggal bagaimana kita mengemasnya sebagai peluang untuk menarik wisatawan. Mulai dari alam yang masih natural, hasil perkebunannya sendiri kopi, karet, kakao, hingga proses pengolahannya. Ini akan menambah destinasi wisata dan memperpanjang life cycle pariwisata di Banyuwangi. Otomatis juga menambah penghasilan perkebunan,” kata Bupati Anas.
Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Ikrori Hudanto mengatakan dalam festival perkebunan ini nanti para pengunjung akan ditunjukkan berbagai produk komoditas hasil perkebunan seperti biji kopi, kakao, karet, cengkeh dan aneka makanan dan minuman maupun produk barang jadi hasil olahannya. Selain juga akan dipertontonkan bagaimana pengolahan hasil perkebunan, misal pembuatan gula merah, coklat, dan cara menyadap karet.
"Seperti Industri Gula Glenmore (IGG) yang akan memamerkan proses pembuatan gula dan pemanfaatan limbah tebu. Dengan pengemasan yang menarik ini, tentunya akan menjadi destinasi wisata yang menarik. Apalagi wisatawan mancanegara, mereka pasti excited melihat bagaimana proses pengolahan produk perkebunan," kata Ikrori.
Dan tidak ketinggalan  even yang paling menarik dan pasti akan disukai para pengunjung, yaitu pesta minum kopi dan cokelat gratis. “Pengunjung bisa menikmati minuman kopi dan cokelat sepuasnya di sini. Semuanya gratis,” cetus Ikrori.
Festival juga akan dilengkapi dengan berbagai pameran potensi daerah lainnya seperti pameran kehutanan, ternak, dan hortikultura.  Tidak hanya berisi pameran seputar perkebunan saja, festival ini juga semakin lengkap dengan adanya destinasi wisata kebun dimana pengunjung bisa berkeliling perkebunan dengan kereta khusus yang disediakan.
Festival perkebunan ini akan diikuti  sejumlah peserta mulai dari Gabungan Perusahaan Perkebunan (GPP), Industri Gula Glenmore (IGG), Perhutani Utara, Barat dan Selatan, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Ijen, Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Alas Purwo. Selain itu juga Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Jember, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan, dan sejumlah pengusaha hortikultura. (Humas & Protokol)