03 November 2015

DPRD Sorong Timba Ilmu Pariwisata Ke Banyuwangi

Terinspirasi progress pariwisata Banyuwangi yang sangat pesat dalam 4 tahun terakhir ini, DPRD Kabupaten Sorong, Papua Barat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Banyuwangi. Kunker anggota DPRD dari Komisi III ini diterima Asisten Pembangunan dan Kesra, Setda Kabupaten Banyuwangi, di Lounge Pelayanan Publik, Senin (2/11).
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sorong, Rokhman MM, mengatakan kemasyuran sejumlah obyek pariwisata Banyuwangi akhir-akhir ini menginspirasinya untuk melakukan kunker guna membangun Sorong. “Perkembangan Banyuwangi saat ini sudah sangat luar biasa, mulai insfrastruktur jalan hingga bandara dan pariwisata. Kami ingin sekali menimba dan menggali ilmu mengembangkan wilayah,” kata Rokhman.
Di Sorong sendiri, kata Rokhman sedikitnya ada 18 destinasi wisata yang masih belum terkelola. Obyek-obyek wisata itu sebagian besar potensi alam yang tersebar di wilayah Sorong. Kabupaten Sorong memiliki wilayah yang cukup luas, 18.700 km , dengan jumlah penduduk yang sedikit sekitar 120 ribu. “Fokus kami adalah untuk belajar bagaimana mengelola keungulan pariwisata, termasuk trik apa yang digunakan untuk promosikan pariwisata dan bagaimana caranya agar investor mau berinvestasi,” kata Rokhman.
Sementara itu, Asisten Pembangunan dan Kesra, Setda Kabupaten Banyuwangi, Wiyono, mewakili PJ Bupati Banyuwangi menyambut senang dengan kunjungan anggota dewan terhormat dari Papua.  Saat menjawab tujuan kunker ini Asisten ini menyatakan, dalam menata daerah, kata Wiyono, Banyuwangi tidak serta merta meniru daerah lain. “Kami tidak mungkin meniru Bali karena budaya masyarakat Banyuwangi berbeda dengan Bali meskipun pariwisata daerah tersebut jauh lebih berkembang. Bali memiliki budaya yang unik dan alam yang indah. Banyuwangi pun  memiliki potensi dengan karakteristik khas daerahnya sendiri. Itu yang dijadikan semangat membangun disini,” kata Wiyono.
Banyuwangi yang terisolasi oleh hutan  dan laut, kata Wiyono,  pada awalnya juga memiliki kesulitan tersendiri. “Akhirnya di bawah kepimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, tercetuslah ide untuk membangun pariwisata eco-tourism. Jadi tantangan kami adalah bagaimana memecahkan yang tadinya menjadi handicap (penghalang) berubah jadi peluang,” kata Wiyono.
Selain itu Banyuwangi, memiliki beragam kesenian dan budaya, dalam kesempatan ini  pemerintah pun  mengemas apik. Dalam satu tahun ini ada 38 event yang kesemuanya mengangkat budaya lokal untuk dijual. Hasilnya, tentu memberikan multiplier effect bagi rakyat dan menarik masyarakat luar untuk melihat keunikan Banyuwangi. Hal itu pula dalam menggarap sejumlah obyek wisata, pemerintah sengaja tidak memberikan ijin pembangunan hotel-hotel di sekitar obyek wisata, namun memberdayakan masyarakat dengan rumah tinggalnya untuk dijadikan home stay-home bagi pengunjung. Dengan begitu dampaknya bisa dirasakan langsung masyarakat. (Humas Protokol)

Tidak ada komentar: