08 Mei 2014

Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Championship 23-25 mei 2014

Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Championship Digelar Tanggal 23 s/d 25 Mei 2014

Kecamatan Pesanggaran. Event penting sebagai awal / pembuka dari seluruh rangkaian Kegiatan Banyuwangi Festival 2014 adalah dengan digelarnya "Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Championship" yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 s/d 25 Mei 2014 bertempat di Pantai Pulau Merah Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran.
Menurut keterangan Camat Pesanggaran Drs. Didik Joko Suhono, M.Si saat mendampingi Tim Survey Tinjau Lapang di Lokasi Wisata Pulau Merah dikatakan bahwa event penting tersebut direncanakan akan diikuti oleh Surfer Lokal 30 orang, Surfer Nasional 50 orang dan Surfer Internasional sebanyak 60 orang dengan total hadiah sebesar 75 juta rupiah.
Selanjutnya mantan Camat Glenmore dan Sekcam Pesanggaran ini menjelaskan bahwa Pulau Merah (Red Island) yang merupakan salah satu potensi wisata di Kabupaten Banyuwangi selama ini kurang begitu dikenal oleh para surfer internasional. Oleh karena itu dengan digelarnya "Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Championship" diharapkan ke depan akan menjadi salah satu perhatian dunia dalam mengembangkan pesurfer lokal dan nasional, sekaligus sebagai media untuk mengembangkan industri wisata yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya khususnya dan masyarakat Pesanggaran serta Banyuwangi pada umumnya.
Sebagaimana paparan Plt. Kadispora Kab. Banyuwangi Drs. Akhmad Khoirullah saat tinjau lapang beberapa hari lalu disampaikan bahwa maksud dan tujuan digelarnya "Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Championship 2014" ini antara lain untuk memberikan ruang gerak dan mengembangkan kemampuan untuk berkompetisi, meningkatkan kualitas surfer lokal dengan membuka diri untuk mengenal surfer - surfer internasional, mengenalkan Pulau Merah sebagai surf point dan destinasi wisata internasional, memperkenalkan berbagai macam produk surfing lokal serta berbagi kemampuan manajemen event kepada komunitas setempat.
Dengan semangat dan kinerja yang tinggi serta diiringi usaha dan do'a Insya Allah "Pulau Merah Banyuwangi International Surfing Championship 2014" yang sudah kedua kalinya digelar di obyek wisata Pulau Merah ini akan lebih sukses lagi, sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan Banyuwangi ke depan lebih baik (bayuar_pro).

06 Mei 2014

Banyuwangi Raih Penghargaan Perencanaan Pembangunan Terbaik Se-Indonesia

JAKARTA - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil meraih Anugerah Pangripta Nusantara Utama 2014 dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Anugerah ini diberikan untuk kabupaten/kota dengan perencanaan pembangunan terbaik.

Hanya ada 12 kabupaten/kota yang terpilih dari tota 529 kabupaten/kota se-Indonesia. Banyuwangi menjadi salah satu yang terbaik dari enam kabupaten/kota yang meraih penghargaan tingkat Utama (perencanaan terbaik). Adapun enam kabupaten/kota lain meraih penghargaan tingkat Pratama (perencanaan yang baik).

Penghargaan diberikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Selasa (29/4/2014).

Armida menuturkan, penghargaan ini diharapkan bisa melecut daerah untuk mendesain pembangunan kabupaten/kota secara lebih baik. "Ke depan harus semakin banyak daerah yang punya perencanaan baik, komprehensif, terukur, dan tentu saja dapat dilaksanakan," ujar Armida.

Dia mengatakan, tim penilai penghargaan ini terdiri atas para pakar, termasuk melibatkan tim independen yang dipimpin Prof Herman Haeruman dari IPB Bogor. "Penghargaan ini harus jadi insentif bagi pemda untuk mewujudkan desain pembangunan yang baik demi perwujudan kesejahteraan rakyat," kata Armida.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, desain pembangunan harus bersumber pada kebutuhan dan permasalahan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah daerah mesti memiliki bank data yang kuat. "Data dan analisis yang salah terhadap permasalahan masyarakat, akan menghasilkan program buang-buang uang saja. Itu yang kami hindari. Data permasalahan harus presisi, sehingga program yang kami lakukan bisa menjawab kebutuhan publik," ujar alumnus studi kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat, tersebut.

Perencanaan pembangunan, kata Anas, juga harus berani menerabas kebekuan dan tidak hanya terkungkung pada anggaran. Program pembangunan jangan berorientasi pada proyek yang bermuara pada anggaran.

"APBD itu kapasitas fiskalnya terbatas, kalau cuma mengandalkan APBD ya itu-itu saja program pembangunan. Makanya di Banyuwangi kita terobos, kita perbanyak inovasi dengan skema public private partnership. Sinergi pemda, BUMN, swasta, dan publik luas untuk optimalkan pembangunan," papar bupati 40 tahun itu.

Mekanisme penilaian penghargaan ini dilakukan secara berjenjang mulai tahap evaluasi dokumen perencanaan hingga verifikasi lapangan. Ada empat kriteria penilaian, yaitu keterkaitan, konsistensi, kelengkapan dan kedalaman, serta keterukuran. Kriteria-kriteria itu menjelaskan mulai dari bagaimana keterkaitan perencaan kabupaten/kota dengan provinsi, konsistensi terhadap isu-isu yang digarap dalam prorgam, memenuhi aspek pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment, serta mempunyai keterukuran hasil pembangunan.

Setelah evaluasi perencanaan pembangunan daerah, Kementerian PPN/Bappenas memverifikasi dengan sejumlah parameter, di antaranya apakah perencanaan tersebut sudah memenuhi aspek penyerapan aspirasi tingkat bawah (bottom-up), pelibatan berbagai unsur publik seperti LSM dan mahasiswa dalam perencanaan, sampai inovasi program pembangunan. (Humas Protokol)

Sopir2 Banyuwangi n sopir se indonesia di Jakarta

 Pasar induk kramat djati jakarta-2014-Mei
bersama para sopir banyuwangi n sopir se indonesia.
by Lintank Truck=Jasa kiriman barang dll-wil Bali & Jawa
Call=081358222229


10 Maret 2014

3 Tujuan Wisata Paling Memukau di Banyuwangi

Citizen6, Banyuwangi: Siapa sih yang tidak kenal dengan kota yang satu ini? Kota eksotis yang berada di ujung timur dari Provinsi Jawa Timur, kota yang sering menjadi tempat mengantri kapal veri untuk menyebrang ke Pulau Dewata, Bali.

Kota yang dijuluki sebagai "Sunrise of Java" ini memiliki sejuta keindahan alam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja ketika kita mampir di Banyuwangi. Ada beberapa rekomendasi tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan tempat wisata di kota lainnya.

1. Kawah Ijen “Ijen Crater”

Kawah Ijen yang letaknya di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo. Tempat ini bisa ditempuh 1-2 jam dari Kota Banyuwangi, kemudian dilanjutkan mendaki ke puncak antara 1-2 jam (untuk pemula dan jalan santai). Tidak usah khawatir, rute pendakian dan jalanannya tidak susah karena petugas setempat sudah membuat sedemikian rupa agar pengunjung mudah untuk mencapai puncak. Dan sungguh luar biasa ketika pengunjug sudah dapat mencapai puncaknya karena rasa lelah selama pendakian akan terbayar dengan nuansa indah alami di puncak. Pengunjung akan mendapat bonus tersendiri ketika berkunjung ke kawah ijen di dini hari (karena diizinkannya adalah sekitar pukul 01.00 WIB) di sana, ketika melihat lebih dekat ke kawahnya, ada yang menakjubkan yaitu adanya “Blue Fire”  yang mana hanya ada dua di dunia dan salah satunya itulah yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Dan setiap tahunnya pemerintah setempat mengadakan acara internasional sebagai salah satu ajang promosi Banyuwangi yaitu ”Tour de Ijen”.

2.  Pulau Merah Red Island

Pulau Merah letaknya di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan, untuk menjangkau tempat ini dibutuhkan sekitar 2-3 jam dari Kota Banyuwangi, rute dan medan jalan yang ditempuh sangat mulus, karena pada setia tahunnya rute ini dilewati dalam penyelenggaraan acara “Tour de Ijen” . Pantai dengan pasir putih siap menyambut kedatangan pengunjung yang berkunjung di Pulau Merah tersebut, desiran ombak laut yang besar sangat indah dan mengasyikkan untuk dinikmati. Dan seperti namanya, Pulau Merah, terdapat sebuah pulau kecil diseberang pantai yang menjulang seperti bukit degan tanah berwarna merah. Ombak dan panoramanya sanggup menarik wisatawan betah untuk berada di lokasi. Dan sempat diadakan perlombaan selancar berskala internasional pada 2013 di Pulau Merah tersebut.
3. Teluk Hijau “Green Bay”

Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Hijau memiliki jarak tempuh lebih jauh, butuh 3-4 jam untuk mencapai lokasi atau lebih. Selain itu medan tempuh yang dilewati pun lebih ekstrim, meskipun pada awalnya masih mulus. Letak tempat wisata ini sama dengan Pulau Merah, namun masih jauh lagi jaraknya. Dan ketika rute menuju Teluk Hijau pisah dari rute Pulau Merah, maka jalan bebatuan harus siap ditempuh. Ketika sampai di lokasi, pengunjung harus rela berjalan untuk akhirnya sampai di bibir pantai berkisar antara 2 km yang bisa ditempuh 1 jam perjalanan karena medannya pun cukup menantang. Namun, keindahan pesona teluk akan membayar semua kelelahan dalam perjalanan. Pasirnya yang puih, air lautnya yang biru kehijauan, dan alamnya yang masih asri sungguh luar biasa, berutung ketika pengunjung dapat menjumpai panghuni setempat alias monyet. Keeksotisan Teluk Hijau dapat dinikmati setelah melewati Pantai Batu. Keperawanan Teluk Hijau masih terjaga, karena sebenarnya, belum banyak wisatawan yang tahu tentang wisata Teluk Hijau ini namun, sungguh panoramanya luar biasa indah.

Jadi, nunggu apa lagi? Ayo mari berwisata ke Banyuwangi. I Love Indonesia. (kw)

Tiga BUMN Sepakat Kembangkan Kawasan Industri Kampe


BANYUWANGI – Kawasan pembangunan kawasan industri yang dirancang Pemkab Banyuwangi segera terealisasi. Hal itu ditandai dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara pemkab dengan tiga BUMN yang langsung disaksikan Menteri BUMN RI Dahlan Iskan, Sabtu (8/3). Ketiga BUMN yang menjadi mitra kerja pemkab ini, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER). MoU itu berisi kesepakatan untuk pembangunan Kampe Industrial Estate Banyuwangi (KIEB), di Kampe, Wongsorejo.
Dalam kesepakatan yang ditandatangani di RS Bhakti Husada Krikilan, Glenmore, pihak pemkab diwakili Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, PTPN XII oleh Direktur Utama Irwan Basri, Direktur Utama PT SIER, Rudhy Wisaksono dan Pelindo III diwakili Direktur Keuangan, Wahyu Suparyono.
Dalam nota kesepahaman itu, PTPN XII sebagai pihak pertama dan BUMN yang memiliki aset yang berupa areal atau Hak Guna Usaha (HGU) sebagai lokasi pembangunan KIEB. PT SIER sebagai pihak kedua dipercaya sebagai BUMN yang bergerak di bidang pembangunan dan pengelolaan kawasan industri. Sementara PT Pelindo III sebagai BUMN yang mempunyai ijin sebagai badan usaha pelabuhan dalam pengelolaan terminal dan fasilitas pelabuhan untuk melaksanakan kegiatan pengusahaan pelayanan jasa kepelabuhan dari Kementerian Perhubungan RI.
Tiga BUMN itu akan mengadakan kerja sama pembangunan dan pengelolaan KIEB di sebagian lahan HGU milik PTPN XII, tepatnya di Perkebunan Pasewaran dengan luas mencapai 718 hektare. Lahan itu tersebar di Afdeling Kampe seluas 130, 64 hektar, Afdeling Sidomulyo 503 hektare dan Afdeling Secang, 85 hektare.
Dirut PTPN XII, Irwan Basri menegaskan pihaknya akan segera menindaklanjuti MoU tersebut dengan melakukan penataan kawasan yang tujuannya untuk mensinkronkan dengan masterplan pemkab. Sebelumnya, PTPN XII telah  melakukan study kelayakan dengan konsultan PT Indah Karya untuk mengkaji kawasan mana yang layak dijadikan kawasan industri. “Untuk itu, kami juga akan segera berkonsultasi dengan LPPM ITS sebagai penyusun masterplan Kabupaten Banyuwangi,” ujar Irwan.
Untuk penyusunan kajian kawasan ini, Irwan Basri mentargetkan April bisa segera tuntas.”Tahun ini pun kalau memang kalau sudah ada industri yang masuk kami sudah siap. Salah satunya yang akan segera masuk pabrik pengolahan industri coklat seperti yang dibilang Pak Dahlan kepada Bupati,” terang Irwan.
Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, KIEB ini akan menjadi trigger bagi pengembangan kawasan Industri Wongsorejo yang lebih awal digagas pemkab. “Mungkin kawasan ini akan jalan lebih dulu, karena prosesnya tanpa harus membebaskan lahan. Kan lahannya HGU dari PTPN. Sementara kawasan industri Wongsorejo tetap akan dikembangkan sambil menunggu proses yang sedang berjalan,” ujar Bupati Anas.
Terkait pengembangan kawasan industri di Banyuwangi, Bupati Anas berharap industri yang berkembang adalah yang berbasis agro. Mengingat potensi agro yang berlimpah, seperti potensi kakao yang luasnya mencapai 5 ribu hektar. “Ini seperti gayung bersambut. Melihat potensi coklat yang melimpah, Pak Dahlan berencana merelokasi industri pengolahan kakao di Banyuwangi. Selain kakao, kami berharap industri agro yang lain bisa tumbuh. Misalnya, pabrik minuman yang bahan dasarnya bisa mengambil jeruk Banyuwangi. Atau air kelapa yang ternyata selama ini diekspor ke Thailand,” pungkas Bupati Anas. (Humas & Protokol)