02 November 2014

Acara ritual kebo-keboan di Dusun Sukodono Desa Aliyan

Acara ritual kebo-keboan di Dusun Sukodono Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi berlangsung meriah. Festival Kebo-keboan digelar di Kabupaten Banyuwangi, Minggu (2/10). Festival ini menandakan budaya agraris yang kental di Banyuwangi. Selama ini, Banyuwangi dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jatim di mana kabupaten itu selalu mengalami surplus sekitar 250.000 ton beras setiap tahunnya.
Kebo-keboan adalah sebuah ritual masyarakat lokal, di mana sejumlah orang didandani seperti kerbau dan seluruh tubuhnya dilumuri jelaga hitam. Kebo dalam bahasa setempat berarti kerbau.
Ritual ini adalah bentuk tradisi permohonan kepada Tuhan agar sawah masyarakat subur dan panen berlangsung sukses. Dalam ritus itu, sejumlah orang didandani seperti kerbau yang merupakan simbolisasi mitra petani di sawah untuk menghalau malapetaka selama musim tanam hingga panen.
”Kebo-keboan sejak lama telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan masyarakat lokal Banyuwangi. Kerbau bukan ternak pada umumnya yang dikonsumsi dagingnya. Tapi kerbau adalah mitra petani untuk menggarap sawah dan berupaya mendapatkan kemakmuran,” tutur Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menghadiri Festival Kebo-keboan.
Di Banyuwangi, kebo-keboan digelar di dua tempat dalam satu hari yang sama, yaitu Desa Aliyan dan Desa Alas Malang. Konon, ritual Kebo-keboan yang digelar setiap 10 Muharram itu muncul sekitar abad ke-18 Masehi. Saat itu, masyarakat setempat dilanda pageblug (wabah). Salah seorang sesepuh desa saat itu, Buyut Karti, pun melakukan ritual selamatan dan menganjurkan warga desa membajak sawah menggunakan kerbau. Dan pageblug pun hilang.
Ritual kebo-keboan ini diawali dengan kenduri desa yang digelar sehari sebelumnya. Warga bergotong royong mendirikan sejumlah gapura dari janur yang digantungi hasil bumi di sepanjang jalan desa sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan.
Esok paginya, warga pun menggelar selamatan di empat penjuru desa, yang dilanjutkan dengan ider bumi. Para petani yang didandani kerbau lalu berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin. Saat berkeliling desa inilah, para "kerbau" itu melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga menabur benih padi.
Para petani itu diyakini kerasukan roh gaib. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepannjang jalan yang dilewati. Saat berjalan pun di pundak mereka terpasang peralatan membajak. Persis kerbau!
Atraksi ritual kebo-keboan ini sangat menarik warga. Bukan sekadar melihat atraksi, sejumlah warga yang datang ke lokasi untuk mendapatkan berkah dari benih padi yang sengaja ditebarkan.
Seperti yang dilakukan Mbah Sapurat (56 tahun) yang saat itu berebut benih padi di Desa Aliyan yang tercecer di jalan meski harus berjuang melawan “kerbau”. “Tiap tahun saya pasti ikut berebut benih padi yang ditebar di acara ini untuk saya tanam lagi di sawah. Dan Alhamdulillah, panen saya pun hasilnya juga bagus dan melimpah,” ujar  Sapurat.
Tradisi Kebo-keboan sejak tahun 2014 ini telah masuk dalam agenda Banyuwangi Festival yang merupakan agenda pariwisata daerah yang berisi beragam acara wisata. “Dengan masuk Banyuwangi Festival, secara tidak langsung memaksa kami untuk bisa menampilkan suatu atraksi budaya lokal yang berkelas. Misal dengan perbaikan manajemen acara. Ini sebagai upaya  kami agar budaya lokal terus membumi, selain tentunya rakyat pun bisa bangga,” pungkas Anas.
Festival Kebo-keboan, imbuh Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Yanuar Bramuda, juga menjadi bentuk pelestarian budaya agraris masyarakat. "Di Banyuwangi banyak model agrotourism yang memadukan pertanian dan wisata. Misalnya, wisatawan bisa meminta paket wisata ikut menanam padi di sawah, atau ikut melihat pemetikan kopi hingga cara menggorengnya," pungkas Bramuda. (Humas Protokol)

Tidak ada komentar: